BeritaCirebon

UCIC Ajak Mahasiswa Lebih Peduli terhadap Disleksia Lewat Talkshow Komunitas

885
×

UCIC Ajak Mahasiswa Lebih Peduli terhadap Disleksia Lewat Talkshow Komunitas

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Universitas Catur Insan Cendekia (UCIC) menunjukkan kepeduliannya terhadap isu disleksia dengan menggelar talkshow bersama komunitas, psikolog, dan tenaga medis.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran (awareness) mahasiswa terhadap disleksia, sekaligus memperingati Hari Disleksia Sedunia.

Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia, dr. Kristiantini Dewi, menjelaskan, disleksia bukanlah bentuk kekurangan intelektual, melainkan kondisi yang membuat seseorang mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, atau memahami bahasa, meski memiliki kecerdasan normal bahkan di atas rata-rata.

“Orang dengan disleksia sering kesulitan mengatur fokus dan tata bahasa. Mereka mudah lupa, tampak berantakan, namun sebenarnya sangat cerdas dan unik,” jelasnya, Jumat (31/10/2025).

Kristiantini menambahkan, disleksia bersifat genetik dan umumnya mulai terdeteksi saat anak memasuki usia sekolah dasar. “Profesional bisa mengenali gejalanya sejak usia lima tahun. Misalnya, anak berbicara dengan struktur bahasa yang tidak biasa, seperti mengatakan ‘guru aku panjang’ untuk maksud ‘guru aku tinggi’,” ungkapnya.

Menurut data, 1 dari 15 anak mengalami disleksia, dan kondisi ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga dapat dialami oleh mahasiswa maupun orang dewasa. “Disleksia berlangsung seumur hidup, sehingga penting bagi individu untuk belajar mengelola diri dan gaya bahasanya,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Biro Kemahasiswaan UCIC Yulius mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang agar mahasiswa lebih memahami dan peduli terhadap disleksia di lingkungan kampus.

“Mungkin ada teman mahasiswa yang belum menyadari bahwa dirinya memiliki gejala disleksia. Karena itu, kami mengemas kegiatan ini secara interaktif dengan fun games, pembuatan back chump, dan sesi menulis harapan,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, UCIC berharap mahasiswa semakin terbuka dan inklusif terhadap perbedaan, serta memahami bahwa disleksia bukan hambatan untuk berprestasi, melainkan bagian dari keunikan individu.***(Sakti)