Berita

Harapan PGRI di Hari Guru Nasional: Kesejahteraan, Kompetensi, dan Konsistensi Kurikulum

753
×

Harapan PGRI di Hari Guru Nasional: Kesejahteraan, Kompetensi, dan Konsistensi Kurikulum

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Peringatan Hari Guru Nasional setiap 25 November kembali menjadi momentum untuk menghargai peran besar para pendidik dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia. Di Kota Cirebon, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menegaskan sejumlah harapan penting yang perlu menjadi perhatian pemerintah.

Ketua PGRI Kota Cirebon, Eka Novianto, menyampaikan bahwa profesi guru kini menghadapi perubahan peran seiring pesatnya perkembangan zaman dan teknologi. Meski demikian, satu hal yang tak boleh bergeser adalah tugas utama guru: mendidik.

“Di era sekarang, peran guru memang mengalami pergeseran. Guru harus lebih adaptif terhadap perubahan. Tapi fungsi utama guru sebagai pendidik tidak boleh hilang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (25/11/2025).

Eka menilai, banjir informasi yang mudah diakses siswa menjadi salah satu tantangan terbesar. Guru, katanya, harus mampu membimbing siswa agar mampu menyaring informasi dengan bijak.

“Akses informasi sangat cepat. Guru punya peran penting untuk mengarahkan siswa menyaring informasi mana yang berdampak baik bagi mereka,” jelasnya.

Menurut Eka, Hari Guru Nasional memiliki makna mendalam karena merupakan bentuk apresiasi terhadap dedikasi para guru. Ia mengaitkan semangat ini dengan pesan Kanjeng Sunan Gunung Jati yang menitipkan “tajug lan fakir miskin”, di mana tajug tidak hanya dimaknai sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat ilmu.

“Guru di Cirebon memegang amanah besar, bukan hanya dari pemerintah tetapi juga nilai-nilai leluhur,” katanya.

Namun di balik peran besar itu, Eka menyoroti masih rendahnya kesejahteraan sejumlah guru, terutama tenaga honorer.

“Masih ada 465 guru—baik paruh waktu maupun honorer murni—yang pendapatannya jauh di bawah UMR. Ini harus jadi perhatian serius,” tegasnya.

Selain kesejahteraan, Eka menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan. Ia juga menyoroti perlunya konsistensi dalam kebijakan pendidikan.

“Pemerintah harus mendorong peningkatan kompetensi guru, baik parsial maupun global. Selain itu, kurikulum harus lebih konsisten. Jangan sampai setiap pergantian menteri selalu diikuti perubahan kebijakan yang belum matang,” tandasnya.***(Sakti)