CIREBON — Antusiasme luar biasa ditunjukkan penonton saat para pemain dan sutradara film Danyang Wingit Jumat Kliwon menyapa langsung para penggemar di XXI CSB Mall Cirebon, Senin (17/11/2025).
Sutradara sekaligus eksekutif produser film, Agus Riyanto Khanza, mengaku terpukau dengan sambutan masyarakat Cirebon.
“Untuk Cirebon hari ini, ini paling gila, paling luar biasa. Penontonnya the best,” ujarnya.
Agus juga menyampaikan pesan moral film tersebut. “Saya hanya ingin bilang, jangan mudah percaya pada manusia, termasuk orang terdekat. Karena kadang justru orang yang kita cintai belum tentu baik untuk diri kita,” ucapnya.
Ia kemudian membeberkan perjalanan panjang produksi film ini.
“Risetnya satu tahun. Lalu peminjaman karakter dan pemilihan pemain enam bulan, reading tiga bulan, syuting sekitar hampir satu bulan, dan proses skoring serta mixing memakan waktu satu tahun. Total dua setengah tahun sampai akhirnya rilis 20 November 2025,” jelasnya.
Putri Maya: Film Pertama, Pengalaman Pertama, dan Tantangan Horor
Salah satu pemain, Putri Maya, mengaku film ini merupakan debut aktingnya.
“Ini film pertama saya, karena basic saya bukan pemain. Apalagi tampil di Kota Cirebon, ini pengalaman yang sangat spesial,” katanya.
Putri juga membenarkan adanya sedikit gangguan saat proses syuting, namun semuanya dapat dilalui dengan baik.
“Waktu pertama syuting memang ada gangguan, tapi Alhamdulillah bisa dilewati,” ujarnya.
Ia berharap film ini diterima masyarakat lebih luas.
“Setelah 8 Desember, film ini juga akan tayang di bioskop Malaysia. Mereka langsung menghubungi dan menayangkannya tanpa antre. Kami tidak menargetkan apa-apa, yang penting masyarakat bisa menerima karya kami,” ucapnya.
Celine: Tantangan Berperan Sebagai Sinden dengan Mantra Khusus
Pemeran lainnya, Celine, membagikan tantangan berat yang ia alami selama memerankan karakter sinden bernama Citra.
“Ini tantangan terbesar saya. Meski pernah coba banyak hal di dunia entertainment, jadi sinden itu belum pernah,” katanya.
Ia harus mempelajari teknik vokal dan lantunan khas sinden, bahkan membawakan mantra khusus yang diciptakan khusus untuk film ini.
“Ini hal yang paling sulit karena harus bermain, bernyanyi, dan melantunkan nada dengan benar,” ungkapnya.
Celine menekankan bahwa film ini tidak semata ingin menakuti penonton.
“Semua pengalaman saya ambil positifnya. Film ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi mengangkat budaya wayang kulit yang menjadi bagian sejarah masuknya Islam di Indonesia,” jelasnya.
Menurutnya, cerita Danyang Wingit Jumat Kliwon diangkat dari legenda rakyat yang diteliti langsung oleh tim produksi.
“Katanya kisah ini memang ada dan menjadi legenda daerah. Banyak yang datang ke lokasi untuk riset. Tapi kalau saya pribadi, saya hanya tahu dari materi film,” tambahnya.***











