CIREBON – Wujud dharma ke tiga dari tridharma Perguruan Tinggi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melalui Program kemitraan masyarakat Program Studi Diploma III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) Cirebon menggelar kegiatan Deteksi Dini Resiko Depresi dan edukasinya bagi siswa kelas XII SMAN 4 Kota Cirebon melalui program bertajuk “Kenali Depresi Bersama Depressly”.
Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan Depressly, aplikasi skrining dini depresi berbasis web yang dikembangkan sebagai media edukasi dan deteksi awal risiko depresi pada remaja.
Siswa kelas XII dipilih sebagai sasaran utama karena berada pada fase transisi menuju perguruan tinggi maupun dunia kerja. Tekanan akademik yang semakin tinggi, persaingan masuk perguruan tinggi negeri (PTN), serta tuntutan dalam menentukan masa depan menjadi faktor yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan mental remaja. Oleh karena itu, edukasi mengenai depresi dan pentingnya deteksi dini dinilai perlu diberikan sejak dini.
Ketua Tim Pengabdian, Yanto Haryanto, S.Pd., S.Kp., M.Kes., mengatakan kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Menurutnya, remaja perlu memiliki pemahaman yang baik agar mampu mengenali kondisi dirinya dan tidak ragu mencari bantuan apabila mengalami gangguan kesehatan mental.
“Kesehatan mental perlu dikenali sejak dini. Melalui aplikasi Depressly, kami berharap remaja lebih berani memahami kondisi dirinya, meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental, serta tidak ragu mencari bantuan ketika diperlukan,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta mengenai depresi dan kesehatan mental.
Selanjutnya, tim memberikan demonstrasi penggunaan aplikasi Depressly, mulai dari cara mengakses aplikasi melalui pemindaian kode QR, pengisian data, hingga cara menjawab setiap pertanyaan skrining secara jujur sesuai kondisi diri masing-masing. Seluruh proses skrining dilakukan secara anonim sehingga identitas peserta tetap terjaga dan siswa dapat menjawab setiap pertanyaan dengan lebih nyaman.
Selain demonstrasi aplikasi, peserta memperoleh penyuluhan mengenai pengertian depresi, faktor risiko, tanda dan gejala, pentingnya menjaga kesehatan mental, serta langkah yang dapat dilakukan apabila diri sendiri maupun teman menunjukkan tanda-tanda mengalami gangguan kesehatan mental. Sebagai media pendukung, setiap peserta juga menerima buku saku
“Kenali Depresi Bersama Depressly” yang berisi materi edukasi serta panduan penggunaan aplikasi secara mandiri.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif mengikuti demonstrasi, mengerjakan skrining, serta berdiskusi mengenai berbagai persoalan kesehatan mental yang sering dihadapi remaja. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai evaluasi terhadap peningkatan pengetahuan yang diperoleh.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Nilai rata-rata pre-test yang semula sebesar 69 meningkat menjadi 80 pada post-test. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan melalui penyuluhan dan demonstrasi aplikasi Depressly mampu meningkatkan pengetahuan siswa mengenai depresi, pentingnya deteksi dini, serta upaya menjaga kesehatan mental sejak usia remaja.
Selain memberikan edukasi, tim juga melaksanakan skrining menggunakan aplikasi Depressly terhadap 60 siswa kelas XII SMAN 4 Kota Cirebon. Hasil skrining menunjukkan sebanyak 36 siswa tidak terindikasi berisiko depresi, 11 siswa berada pada kategori risiko depresi ringan, 8 siswa kategori risiko depresi sedang, dan 5 siswa kategori risiko depresi berat.
Temuan tersebut menjadi gambaran bahwa masih terdapat siswa yang memerlukan perhatian lebih terkait kesehatan mental sehingga upaya edukasi, deteksi dini, dan pendampingan di lingkungan sekolah perlu terus ditingkatkan.
Meski demikian, Tim Pengabdian menegaskan bahwa hasil yang diperoleh melalui Depressly bukan merupakan diagnosis klinis.
Aplikasi ini dikembangkan sebagai media skrining dini untuk membantu mengidentifikasi tingkat risiko depresi pada remaja. Peserta yang memperoleh hasil dengan kategori risiko tertentu tetap disarankan berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater, agar mendapatkan penilaian dan penanganan yang sesuai.
Melalui kegiatan ini, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya berharap pemanfaatan teknologi digital seperti Depressly dapat mendukung upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan mental. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah juga diharapkan terus berlanjut guna meningkatkan literasi kesehatan mental remaja serta menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih peduli, suportif, dan responsif terhadap kesehatan mental peserta didik.***











