BeritaCirebon

Literasi dan Numerasi Siswa Menurun, Disdik Kota Cirebon Dukung Sistem Tinggal Kelas

892
×

Literasi dan Numerasi Siswa Menurun, Disdik Kota Cirebon Dukung Sistem Tinggal Kelas

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Dinas Pendidikan Kota Cirebon akui masih ada siswa yang belum bisa membaca dan juga berhitung.

Scroll Untuk Lanjut Baca
Scroll Untuk Lanjut Baca

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon Handi Sogiyanto mengatakan, untuk kompetensi baik literasi maupun numerasi anak-anak sendiri memang ada yang menurun.

“Memang kita buka komunikasi dengan pengawas memang ada anak yang masih kurang literasi dan numerasi, sehingga memang harus ada program yang bisa membangkitkan minat belajar,” katanya, Rabu (14/10/2026).

Maka dari itu, sistem tidak naik kelas sendiri dirasa cocok untuk membangkitkan semangat belajar dari anak-anak dan juga semangat mendidik dari orang tua.

“Kita dari dinas ini mendukung ya sistem itu, karena didalam itu ada sistem kompetisi bagi siswa, jangan sampai ada sistem rajin malas sama saja (RMS),” tuturnya.

Ia mejelaskan, dalam peraturan menteri (Permen) Dikbudristek nomor 21 tahun 2022 tentang standar nilai pendidikan, bahwa satuan pendidikan punya kewenangan untuk menentukan kenaikan kelas.

“Tentunya dengan pertimbangan perkembangan murid, baik akademik maupun non akademik, namun dengan penilaian objektif, adil, dan melihat perkembangan siswa,” jelasnya.

Handi mengungkapkan, untuk regulasi maupun petunjuk belum diberikan oleh pemerintah pusat kepada daerah.

“Namun jangan sampai adanya sistem tinggal kelas sendiri berimbas pada meningkatnya anak tidak sekolah (ATS),” ungkapnya.

Ia menjelaskan, sistem tinggal kelas sendiri biasanya terdapat beberapa item, salah satunya itu kehadiran yang harus 80 persen.

“Yang pertama mungkin kehadiran, dan mungkin kalau ada anak yang tinggal kelas sendiri wali kelas bisa memanggil orang tuanya terlebih dahulu yang mungkin bisa menolong anak agar naik kelas,” jelasnya.

Sementara itu, orang tua siswa Branantyo mengatakan yang seharusnya diperbaiki yakni sistem pendidikan di Indonesia.

“Intinya pendidikan ini mau dibawa kemana, setiap ganti menteri ganti kebijakan ganti kurikulum, jadi harus ada rencana jangka pendek, menengah, dan panjang,” katanya.

Selain itu, ia menilai guru harus menilai kemampuan siswa secara objektif jangan subjektif.

“Jangan karena merasa ada orang tua siswa yang dekat dengan gurunya jadi nilai siswa tersebut tinggi, saya juga masih ragu apakah nilai itu didapatkan murni dari kemampuan siswa masing-masing atau memang ada kedekatan,” paparnya.***(Sakti)