KUNINGAN – Di lereng Gunung Ciremai, kopi bukan sekadar tanaman perkebunan. Ia adalah sejarah, identitas, sekaligus harapan baru bagi ratusan petani yang selama bertahun-tahun berjuang agar hasil bumi mereka tidak lagi kehilangan nama ketika meninggalkan kampung halaman. Kini, harapan itu mulai menemukan bentuknya.
Di kawasan Kuningan dan Majalengka, sebuah nama tengah dibangun dan diperjuangkan untuk menjadi identitas bersama, Java Buana Ciremai.
Jika Aceh memiliki Gayo sebagai salah satu ikon kopi yang telah mendunia, Jawa Barat memiliki banyak wilayah penghasil kopi dengan karakter khasnya.
Salah satunya adalah kawasan lereng Ciremai yang kini tengah berupaya menempatkan Java Buana Ciremai sebagai brand kolektif sekaligus identitas geografis kopi dari kawasan tersebut.
Perjuangan itu tidak dilakukan dalam semalam
Di balik secangkir kopi yang harum, terdapat perjalanan panjang para petani, kelompok tani, pendamping, pelaku usaha, hingga Bank Indonesia (BI) Cirebon yang mendorong pengembangan kopi dari hulu sampai hilir.
Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai, Taufik Hernawan, menjadi salah satu sosok yang konsisten membawa misi tersebut.
Baginya, persoalan kopi Kuningan bukan hanya soal bagaimana menghasilkan biji kopi dalam jumlah besar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kopi tersebut memiliki identitas, kualitas, nilai tambah, dan mampu memberikan kesejahteraan kepada petaninya.
“Kalau kopi dari Gunung Ciremai ini banyak diambil orang luar kota, brand-nya lepas. Kalau diambil kota A, namanya jadi kopi kota A. Asal geografis Kuningannya hilang. Kami mau melindungi ini, jangan sampai identitas aslinya hilang,” ujar Taufik, Kamis (10/9/2026).
Ketika Kopi Kuningan Sempat Kehilangan Namanya
Kopi sebenarnya bukan tanaman baru bagi masyarakat di sekitar Gunung Ciremai. Taufik menyebut sejarah budidaya kopi di kawasan Kuningan-Majalengka telah berlangsung sejak era kolonial Belanda, sekitar pertengahan abad ke-19. Arabika, robusta hingga liberika telah menjadi bagian dari perjalanan perkebunan masyarakat selama lebih dari satu abad.
Namun, panjangnya sejarah tersebut tidak otomatis membuat petani menikmati nilai ekonomi yang besar.
Pada masa lalu, banyak petani hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah. Mereka bahkan tidak benar-benar mengetahui karakter kopi yang tumbuh di kebun sendiri.
Taufik masih mengingat kondisi petani sekitar 2015. Kopi arabika yang sekarang justru menjadi salah satu jenis kopi bernilai tinggi, ketika itu oleh sebagian masyarakat bahkan disebut sebagai “kopi melinjo” karena bentuk buahnya yang dianggap menyerupai melinjo.
Lebih ironis lagi, petani yang menanam kopi tersebut tidak pernah benar-benar mencicipi hasil kebunnya sendiri.
“Tahun 2015 itu masyarakat, petani nggak tahu itu namanya kopi Arabika. Taunya kopi melinjo karena bentuknya yang mirip. Mereka punya Arabika tapi full 100 persen dijual, nggak pernah dicicipi. Petani kopi enggak tahu rasa kopi,” kata Taufik.
Keterbatasan pengetahuan budidaya dan pascapanen membuat posisi petani lemah. Kopi dijual mentah, sementara keuntungan yang lebih besar justru berada pada mata rantai setelahnya. Di sinilah persoalan sebenarnya bermula. Kopi tumbuh di tanah Kuningan, tetapi identitas dan nilai tambahnya dapat berpindah ke daerah lain.
Awalnya Keresahan Menjadi Gerakan
Sekitar 2017, Taufik mulai mengumpulkan petani kopi di kawasan Gunung Ciremai. Langkah awalnya sederhana, tetapi membutuhkan proses panjang, membuka wawasan petani bahwa kopi bukan sekadar hasil kebun yang dipetik lalu dijual.
Petani mulai diperkenalkan dengan budidaya yang lebih baik, pengolahan pascapanen, karakter rasa, hingga bagaimana sebuah produk kopi bisa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi ketika kualitasnya terjaga, dari proses itulah kemudian tumbuh MPIG Buana Ciremai dan brand kolektif Java Buana Ciremai.
Nama tersebut merepresentasikan kawasan Gunung Cakra Buana di Majalengka dan Gunung Ciremai yang membentang di dua kabupaten.
Java Buana Ciremai bukan sekadar merek dagang. Di dalamnya terdapat upaya menjaga hubungan antara kopi dan wilayah asalnya. Lebih dari 50 kelompok tani atau sekitar 500 orang kini telah terlibat dalam ekosistem tersebut.
Mereka tidak hanya berupaya meningkatkan produksi, tetapi juga memperketat standar pengolahan setelah panen. Sebab, kopi berkualitas tidak cukup hanya lahir dari tanah yang subur. Ia membutuhkan proses yang tepat sejak buah dipetik hingga menjadi biji siap sangrai.
Pertama kali 200 Ton Menjadi 1.700 Ton
Perubahan mulai terasa ketika pendampingan dilakukan secara lebih terarah. Bank Indonesia (BI) Cirebon menjadi salah satu pihak yang kemudian masuk mendampingi MPIG Buana Ciremai.
Pendekatan yang dilakukan bukan sekadar memberikan bantuan modal, tetapi membangun kemampuan petani dari hulu hingga hilir.
Petani mendapatkan edukasi budidaya, dukungan peralatan pengolahan, pendampingan terkait hama, sarana pendukung hilirisasi, hingga akses pasar. BI juga mempertemukan petani dengan calon pembeli melalui program business matching.
Bagi petani, bertemu langsung dengan buyer membuka peluang baru. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada rantai perdagangan yang panjang.
“BI punya program, mulai concern melihat potensi kopi. Mereka support sistem sama dengan visi-misi kita bahwa ingin meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Ada program business matching antara pelaku kopi dengan buyer, calon buyer. Dipertemukan sama BI,” ujar Taufik.
Bahkan, para petani mendapatkan kesempatan belajar langsung melalui studi banding ke Gayo, Aceh, salah satu kawasan yang telah lama dikenal sebagai sentra kopi. Di sana, mereka melihat bagaimana kopi dapat dikembangkan menjadi sebuah ekosistem ekonomi bukan hanya komoditas pertanian. Hasilnya mulai terlihat.
Menurut Taufik, sebelum pendampingan berjalan masif, produksi kopi di kawasan tersebut berada di kisaran 200 ton per tahun. Kini produksi telah meningkat hingga sekitar 1.700 ton per tahun.
Perjalanan kenaikannya pun cukup signifikan, dari sekitar 700 ton, kemudian 1.300 ton, hingga mencapai 1.700 ton. Permintaan pasar bahkan mulai datang dari luar negeri.
Kopi Java Buana Ciremai telah menjangkau sejumlah negara, di antaranya Thailand, Taiwan, Hong Kong, Inggris, Australia hingga Amerika Serikat.
Namun, tantangannya masih sama, permintaan pasar jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi petani.
“Permintaan internasional sangat besar, ekspor saat ini masih terbatas pada skala kiloan hingga hitungan ton, seperti pengiriman 3 ton ke Taiwan dan 2 ton ke Amerika Serikat,” tutur Taufik.
Persoalan tersebut justru menunjukkan satu hal penting: pasar sudah terbuka, tetapi kapasitas produksi harus terus diperkuat.
Kopi Berkualitas Tak Hanya Bicara Rasa
Kopi Java Buana Ciremai sendiri memiliki karakter yang khas. Kopi arabika yang tumbuh di dataran tinggi kawasan Ciremai memiliki lingkungan agroklimat yang mendukung terbentuknya karakter rasa kompleks. Seperti sejumlah kopi Jawa Barat lainnya, kopi dari kawasan ini dapat menghadirkan karakter fruity dengan aroma yang khas, termasuk nuansa melati, aren hingga nanas.
Sementara itu, robusta menjadi salah satu penopang utama produksi kopi Kuningan. Kabupaten Kuningan tercatat sebagai salah satu sentra robusta terbesar di Jawa Barat. Berdasarkan data 2025 yang dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi robusta Kuningan mencapai sekitar 1.157 ton.
Angka tersebut menempatkan Kuningan di posisi kedua setelah Kabupaten Bogor yang mencapai 3.603 ton. Di bawah Kuningan terdapat Tasikmalaya dengan 1.030 ton, Ciamis 936 ton dan Garut 469 ton. Artinya, Kuningan memiliki basis produksi yang kuat.
Petani Mulai Melihat Kopi dengan Cara Berbeda
Perubahan itu dirasakan langsung oleh petani muda seperti Roby SHut dari Kenandra Kopi.
Bagi Roby, pendampingan yang dilakukan BI tidak berhenti pada promosi. Akses pasar, bantuan alat processing, hingga sarana pendukung pertanian memberikan dampak nyata terhadap perkembangan usahanya.
Ia merasakan sendiri bagaimana skala usaha yang sebelumnya hanya setengah hektare kini berkembang jauh lebih luas.
“Alhamdulillah fasilitas akses pasar dari BI ini sangat membantu. Dari awal-awal lahan hanya setengah hektare, sekarang hampir 15 sampai 20 hektare,” ungkap Roby.
Awalnya sekitar lima hektare lahan produktif, ia menyebut produksi dapat mencapai sekitar dua ton dalam satu musim panen, dengan harga dan kualitas yang terjaga, nilai ekonomi yang diperoleh pun meningkat.
“Kalau sekarang hasil panen dari 5 hektare yang produktif bisa dapat 2 ton sekali panen. Kita dapat 2 ton, hampir sudah Rp60 sampai Rp70 juta sekali musim panen,” ujarnya.
Cerita Roby memperlihatkan bahwa kopi dapat menjadi pilihan ekonomi baru bagi generasi muda di wilayah perkebunan. Bukan sekadar mempertahankan kebun warisan, tetapi mengubahnya menjadi usaha yang memiliki prospek.
BI Mendorong Kopi Naik Kelas
Kepala Bank Indonesia (BI) Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengatakan pengembangan Java Buana Ciremai diarahkan untuk memperkuat rantai pasok sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Pendampingan dilakukan mulai dari peningkatan kapasitas petani, produktivitas, tata kelola pascapanen hingga standardisasi mutu.
Menurutnya, konsistensi kualitas menjadi kunci agar kopi daerah dapat diterima oleh pasar yang lebih luas, termasuk industri kedai kopi modern.
“Kami tidak hanya mendorong dari sisi produksi di petani, tetapi juga menjembatani hubungannya dengan pembeli. Jika kualitasnya konsisten dan pasokannya terjamin, tidak ada alasan bagi coffee shop untuk tidak menyajikan kopi Java Buana Ciremai,” ujar Rengganis.

Di sisi hilir, BI juga mendorong pengembangan kafe dan UMKM yang berkaitan dengan kopi, karenanya, rantai ekonomi tidak berhenti ketika petani menjual biji kopi.
Ada roastery, kedai kopi, barista, pelaku UMKM, pengolah produk turunan, hingga sektor pariwisata yang dapat ikut mengambil manfaat.
Kopi akhirnya tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas perkebunan. Ia menjadi sebuah ekosistem.
“Produk pertanian tidak berhenti pada proses produksi, tetapi perlu memiliki nilai tambah setelah memasuki tahapan pengolahan dan pemasaran,” kata Rengganis.
Dari Lereng Ciremai ke Panggung Dunia
Langkah berikutnya adalah membawa nama Java Buana Ciremai semakin jauh. BI Cirebon mendorong kopi binaan MPIG Buana Ciremai untuk tampil dalam berbagai ajang promosi dan perdagangan, termasuk panggung internasional.
Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah keikutsertaan UMKM kopi binaan MPIG Buana Ciremai dalam World of Coffee (WoC) Jakarta 2025.
Kopi asal Ciremai juga diproyeksikan dibawa ke World of Coffee di Bangkok untuk diperkenalkan kepada pasar internasional. Langkah tersebut menjadi penting karena pasar global bukan hanya membutuhkan kopi dalam jumlah besar.
Pasar global membutuhkan cerita, konsistensi, identitas, dan kualitas.
Java Buana Ciremai memiliki cerita itu.
Ada sejarah panjang sejak era kolonial. Ada petani yang selama bertahun-tahun menjual kopi tanpa mengetahui rasa hasil kebunnya sendiri. Ada keresahan tentang hilangnya identitas geografis. Ada proses belajar, pendampingan, penguatan kelembagaan, hingga munculnya generasi petani baru. Semua bertemu dalam satu nama yakni Java Buana Ciremai.
Tantangan Besar Setelah Mendapat Pengakuan
Perjuangan MPIG Buana Ciremai untuk mendapatkan pengakuan utuh atas nama Java Buana Ciremai kini tinggal selangkah lagi. Namun, pengakuan tersebut bukanlah garis akhir.
Justru setelah identitas semakin kuat, tantangan yang lebih besar menanti. Produksi harus mampu memenuhi permintaan. Kualitas harus konsisten. Petani harus mendapatkan harga yang layak. Regenerasi petani harus berjalan dan yang tidak kalah penting, nama Java Buana Ciremai harus dijaga agar tidak kembali kehilangan makna geografisnya.
Sebab, sebuah nama tidak akan berarti tanpa kualitas yang menyertainya. Taufik memahami hal itu. Baginya, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat kopi Ciremai terkenal.
Lebih dari itu, ia ingin petani yang selama ini berada di ujung rantai produksi menjadi pihak yang ikut menikmati nilai ekonomi terbesar dari kopi yang mereka tanam. “Brand kita naik, kualitas kita naik, pengetahuan kita naik,” katanya.
Kalimat sederhana itu sebenarnya menggambarkan perubahan besar. Dulu petani hanya menjual kopi. Kini mereka mulai memahami kopi. Dulu kopi dari lereng Ciremai bisa kehilangan identitas ketika dibawa keluar daerah.
Kini mereka sedang membangun nama sendiri dan dulu kopi hanya dipandang sebagai hasil perkebunan.
Kini, dari lereng Gunung Ciremai, masyarakat Kuningan sedang berusaha membuktikan bahwa kopi juga bisa menjadi identitas daerah, sumber kesejahteraan, sekaligus pintu menuju pasar dunia.
Aceh punya Gayo, Jawa Barat punya banyak cerita kopi.
Salah satunya sedang ditulis dari lereng Cirema dengan nama Java Buana Ciremai. Sebuah nama yang kini tidak hanya ingin dikenal sebagai merek kopi, tetapi sebagai penanda dari mana kopi itu berasal, siapa yang menanamnya, dan bagaimana sebuah komoditas lokal perlahan menemukan jalannya menuju dunia.*** (Hasan)











