BeritaCirebon

Cirebon Bakal Jadi Sorotan Dunia, Festival Topeng Ini Hadirkan Seniman 5 Negara

883
×

Cirebon Bakal Jadi Sorotan Dunia, Festival Topeng Ini Hadirkan Seniman 5 Negara

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Kota Cirebon kembali bersiap menjadi panggung pertemuan seni dan budaya dunia melalui Cirebon Mask Festival (CMF) 2026. Digelar pada 15–16 November 2026 di Balai Kota Cirebon, festival topeng tahunan ini akan menghadirkan delegasi dari lima negara, yakni Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Ekuador, dan Jerman.

Scroll Untuk Lanjut Baca
Scroll Untuk Lanjut Baca

Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, Cirebon Mask Festival 2026 tak hanya menawarkan pertunjukan seni topeng dari berbagai negara. Festival ini juga menghadirkan beragam kegiatan edukatif dan interaktif, mulai dari kirab budaya, pasar seni dan kuliner, dialog budaya, hingga lokakarya topeng dan batik.

Ajang ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan seni Topeng Cirebon kepada masyarakat luas sekaligus mempertemukan tradisi lokal dengan kebudayaan internasional.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, mengatakan Cirebon Mask Festival merupakan salah satu upaya menjaga keberlangsungan seni tradisional sekaligus mendekatkannya kepada generasi muda.

“Festival ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk kembali mengenal tradisi, mempelajari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta menumbuhkan kecintaan terhadap kekayaan budaya daerah,” ujar Agus, Selasa (13/10/2026).

Menurutnya, pelestarian seni Topeng Cirebon membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk para pelaku seni yang selama ini menjaga tradisi tersebut tetap hidup.

Karena itu, CMF 2026 melibatkan berbagai unsur kesenian, mulai dari dalang, nayaga atau pemain musik pengiring, penari, perajin topeng, hingga penjahit kostum.

Keterlibatan para pelaku seni tersebut dinilai penting agar Topeng Cirebon tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi terus berkembang melalui pertunjukan, proses kreatif, dan regenerasi seniman.

Salah satu daya tarik utama Cirebon Mask Festival 2026 adalah kehadiran delegasi dari Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Ekuador, dan Jerman.

Setiap negara akan membawa karakteristik seni topeng yang berbeda, mulai dari tradisi, sejarah, hingga nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Pertemuan tersebut diharapkan membuka ruang pertukaran pengetahuan sekaligus menunjukkan bahwa seni topeng merupakan bagian dari warisan budaya yang berkembang di berbagai belahan dunia.

Di sisi lain, kehadiran seniman internasional juga menjadi peluang untuk memperkenalkan keunikan Topeng Cirebon kepada khalayak yang lebih luas.

Dengan demikian, festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga sarana diplomasi budaya yang mempertemukan seniman, komunitas, dan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Upaya memperluas jejaring kebudayaan tersebut turut dilakukan melalui kolaborasi Cirebon Mask Festival dengan International Mask Festival (IMF) dari Solo, Jawa Tengah.

Agus mengatakan, kolaborasi ini memiliki semangat yang sama dalam menjaga dan memperkenalkan seni topeng sebagai bagian dari kekayaan budaya.

“Kolaborasi ini menjadi langkah untuk memperkuat jejaring antarkomunitas seni, memperluas ruang pertukaran budaya, serta membuka peluang pertemuan antara tradisi topeng Cirebon, Solo, dan berbagai negara,” ungkapnya.

Ia berharap sinergi tersebut dapat memperluas upaya pelestarian budaya sekaligus memperkuat peran festival seni dalam pengembangan pariwisata daerah.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Cirebon sekaligus Ketua Cirebon Mask Festival 2026, Imam Reza Hakiki, mengatakan festival tahun ini dirancang agar pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai aktivitas budaya.

Pria yang akrab disapa Kiki itu menjelaskan, rangkaian kegiatan CMF 2026 mencakup pertunjukan topeng dari lima negara, pertunjukan Topeng Cirebon, pasar seni dan kuliner, kirab budaya, dialog budaya, serta lokakarya atau workshop topeng, batik, dan kuliner.

Selain itu, panitia juga menyiapkan kegiatan table top, gala dinner, berbagai perlombaan, serta program sukarelawan atau volunteer yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam penyelenggaraan festival.

Beragam agenda tersebut diharapkan memberikan pengalaman yang lebih dekat dan menarik bagi pengunjung dalam mengenal kekayaan budaya Cirebon.

Melalui workshop, misalnya, masyarakat dapat mempelajari proses kreatif di balik karya tradisional. Sementara itu, pasar seni dan kuliner menjadi ruang bagi para pelaku usaha untuk memperkenalkan produk kreatif serta kekayaan gastronomi khas Cirebon kepada pengunjung dari luar daerah maupun delegasi internasional.

“Selain menjadi ajang pelestarian budaya, festival ini diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, perajin, seniman, serta sektor kuliner dan perhotelan untuk turut berkembang,” kata Kiki.

Penyelenggaraan Cirebon Mask Festival 2026 juga diarahkan untuk memberikan dampak terhadap sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta industri hotel dan restoran di Kota Cirebon.

Menurut Agus, Kota Cirebon memiliki potensi yang dapat dikembangkan secara terpadu, mulai dari seni budaya, kuliner khas, destinasi wisata, hingga layanan perhotelan.

Festival ini menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan berbagai potensi tersebut dalam sebuah agenda yang diharapkan mampu menarik perhatian masyarakat dan wisatawan.

Untuk memperluas dampak penyelenggaraan, CMF 2026 turut melibatkan PHRI Kota Cirebon. Kolaborasi antara pelaku industri pariwisata dan Pemerintah Kota Cirebon melalui Disbudpar dinilai penting dalam mendukung kesuksesan acara.

Kiki pun mengajak perusahaan, pemilik merek, institusi, komunitas, dan berbagai mitra untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan festival.

Menurutnya, dukungan lintas sektor tidak hanya berkaitan dengan sponsorship, tetapi juga menjadi bentuk investasi bersama dalam memperkuat identitas daerah, menggerakkan ekonomi lokal, dan memperkenalkan budaya Cirebon ke tingkat internasional.

Sinergi tersebut diharapkan membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha lokal untuk mempromosikan produk dan layanan mereka, sekaligus memberikan pengalaman wisata yang beragam bagi para pengunjung.

Semangat pelestarian budaya dalam Cirebon Mask Festival 2026 juga berkaitan dengan peringatan Hari Museum Nasional pada 12 Oktober 2026. Festival ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan hari ulang tahun Museum Topeng Cirebon.

Museum memiliki peran penting dalam menyimpan, merawat, dan memperkenalkan jejak sejarah kepada masyarakat. Melalui festival budaya, warisan yang tersimpan di museum diharapkan tidak hanya menjadi koleksi, tetapi juga dapat dipahami dan diapresiasi oleh generasi masa kini.

Seni Topeng Cirebon sendiri memiliki nilai sejarah, filosofi, dan karakter budaya yang kuat. Nilai-nilai tersebut diwariskan melalui gerak tari, karakter topeng, kostum, serta iringan musik tradisional.

Karena itu, pertunjukan, dialog budaya, dan lokakarya yang dihadirkan dalam CMF 2026 diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran yang lebih menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, Cirebon Mask Festival diharapkan semakin memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan seni topeng.

Lebih dari sekadar agenda pertunjukan, festival ini menjadi ruang perjumpaan antargenerasi, komunitas seni, pelaku usaha, dan masyarakat internasional untuk merayakan keberagaman budaya.

“Melalui kolaborasi yang terus diperluas, CMF 2026 diharapkan mampu menjaga agar seni Topeng Cirebon tetap hidup, berkembang, dan dikenal semakin luas, sekaligus menjadi bagian dari penguatan daya tarik pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Cirebon,” pungkas Kiki.***