CIREBON – Minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah rumah tangga ternyata bisa diubah menjadi produk bernilai ekonomi. Empat mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon membuktikannya melalui inovasi sabun penghilang noda bernama Jelvora.
Inovasi tersebut menarik perhatian Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, saat mengunjungi pameran Creative by Indonesia IDE.IND di Grage Mall Cirebon, Kamis (5/11/202
Di tengah deretan stan pameran, Jelvora menjadi salah satu produk yang mencuri perhatian. Suci Zaitiani bersama tiga rekannya, Aulia Cantika, Yuni Prasetya, dan Serafina, memperkenalkan sabun hasil olahan minyak jelantah sekaligus mendemonstrasikan kemampuannya mengangkat noda membandel pada kain.
Bagi mereka, Jelvora bukan sekadar produk sabun biasa. Inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap persoalan limbah minyak goreng bekas yang kerap dibuang begitu saja dan berpotensi mencemari lingkungan.
“Jadi ini memang dibuat sebagai program pengembangan kita. Sebelumnya kami juga pernah membuat lilin dari minyak jelantah, sejak akhir tahun kemarin dengan nama Jelantara,” ujar Suci.
Pengembangan Jelvora membutuhkan proses sekitar dua bulan. Keempat mahasiswi tersebut harus melewati serangkaian percobaan untuk mendapatkan formula sabun yang tepat, mulai dari mengatasi bau minyak bekas hingga memastikan produk mampu bekerja optimal mengangkat noda.
Proses pembuatannya diawali dengan merendam minyak jelantah menggunakan arang untuk mengurangi bau. Setelah itu, minyak disaring sebelum dicampurkan dengan sejumlah bahan lain, seperti air, soda api, serta pewangi yang mereka racik sendiri.
Perjalanan menciptakan produk tersebut tidak selalu berjalan mulus. Mereka sempat menghadapi sejumlah kendala, mulai dari sabun yang gagal terbentuk, ketepatan komposisi bahan, hingga keterbatasan pasokan minyak jelantah sebagai bahan baku.
Untuk menjaga ketersediaan bahan, tim Jelvora bahkan menjalin kerja sama dengan sejumlah penggerak UMKM di kawasan Bima, Cirebon.
Dengan pendampingan dosen Rita serta belajar secara mandiri melalui jurnal dan berbagai referensi, mereka terus melakukan penyempurnaan hingga menemukan formula yang sesuai.
Menariknya, pengembangan Jelvora tidak berhenti pada kegiatan penelitian dan eksperimen di lingkungan kampus. Para mahasiswi ini juga berupaya memperkenalkan manfaat pengolahan minyak jelantah kepada masyarakat.
Salah satunya melalui lokakarya pembuatan sabun bersama ibu-ibu PKK di Desa Sukawinangun, Cirebon. Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai proses pengolahan minyak jelantah, tetapi juga ikut mempraktikkan pembuatan sabun.
Bahkan, hasilnya langsung diuji untuk membersihkan mukena milik kepala desa. Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi sederhana bisa dikembangkan menjadi aktivitas produktif yang memberikan manfaat lebih luas.
Upaya dan kreativitas mereka kemudian mendapat pengakuan dalam ajang ASTA (Aktivasi Startup Indonesia) One Minute Startup Challenge 2026 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Cirebon pada 30–31 Oktober.
Dalam kompetisi tersebut, tim Jelvora bersaing dengan sembilan tim mahasiswa lainnya. Setiap peserta ditantang mempresentasikan gagasan bisnis melalui video berdurasi satu menit.
Hasilnya, Jelvora berhasil menembus tiga besar. Prestasi itu mengantarkan mereka mendapatkan penghargaan dari Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dalam kegiatan Creative by Indonesia IDE.IND di Grage Mall Cirebon.
Saat menyambangi stan Jelvora, Riefky menyimak penjelasan para mahasiswa sekaligus melihat langsung demonstrasi produk. Ia mengapresiasi kreativitas anak muda yang mampu mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang usaha.
“Saya senang melihat anak-anak muda seperti tim Jelvora. Mereka melihat sesuatu yang selama ini dianggap limbah, kemudian mengubahnya menjadi produk yang punya nilai ekonomi. Inilah esensi ekonomi kreatif: kemampuan melihat peluang dari hal-hal sederhana, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna,” ujar Riefky.
Selain inovasi sabun dari minyak jelantah, IDE.IND juga menghadirkan kisah pelaku ekonomi kreatif dari subsektor lainnya. Salah satunya datang dari penulis Asma Nadia melalui platform novel digital KBM App.
Platform tersebut menjadi ruang bagi para penulis untuk mempublikasikan karya sekaligus mendapatkan penghasilan dari cerita yang mereka hasilkan.
Asma Nadia menceritakan, gagasan KBM App berawal dari meningkatnya kebutuhan hiburan digital ketika pandemi membuat banyak orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Novel digital kemudian menjadi salah satu alternatif hiburan yang bisa dinikmati kapan saja dan di mana saja.
Platform tersebut mulai diluncurkan pada Mei 2019 dan kini telah digunakan sekitar 6,8 juta orang.
Namun, bagi Asma, keberhasilan KBM App bukan semata-mata diukur dari besarnya jumlah pengguna. Hal yang paling membahagiakan justru ketika karya para penulis mampu memberikan perubahan nyata dalam kehidupan mereka.
Ia mengungkapkan, banyak penulis dari berbagai daerah di Indonesia yang berhasil memperoleh penghasilan dari karya-karyanya. Bahkan, hasil tersebut digunakan untuk membantu keluarga hingga memperbaiki kondisi ekonomi.
“Setelah para penulis memberikan karya-karya kreatifnya, saya senang melihat mereka memetik hasilnya. Ada yang akhirnya bisa membeli kursi roda untuk ibunya yang sakit, ada yang bisa bebas dari utang pinjol, ada yang bisa membayar gadaian rumah, bahkan membangun rumah. Mereka dari seluruh daerah di Indonesia, luar biasa semangat menulisnya,” tutur Asma.
Melalui sistem pembacaan berbayar dan skema bagi hasil, KBM App memberikan kesempatan kepada penulis untuk memonetisasi karya. Dengan demikian, aktivitas menulis tidak hanya menjadi ruang berekspresi, tetapi juga berpotensi menjadi sumber penghidupan.
Kisah Jelvora dan KBM App menjadi gambaran bahwa peluang ekonomi kreatif dapat lahir dari berbagai hal sederhana. Limbah rumah tangga bisa dikembangkan menjadi produk bernilai jual, sementara cerita dan kreativitas menulis dapat membuka jalan penghasilan bagi masyarakat.
Semangat itulah yang ingin diperkuat Kementerian Ekonomi Kreatif melalui IDE.IND, salah satu bagian dari program strategis Creative by Indonesia.
Digelar di Atrium Utama Grage Mall Cirebon, kegiatan ini menghadirkan 12 stan pameran yang mewakili delapan subsektor ekonomi kreatif. Selain pameran, pengunjung juga dapat mengikuti empat sesi diskusi serta memanfaatkan ruang pertemuan untuk membangun jejaring antara pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan talenta digital.
IDE.IND dirancang sebagai wadah untuk mempertemukan ide dan kreativitas lokal dengan pengetahuan, jaringan kolaborasi, mitra usaha, serta peluang pasar yang lebih luas.
Sebab, sebuah gagasan tidak cukup hanya berhenti pada tahap penciptaan. Diperlukan dukungan ekosistem, pendampingan, dan akses pasar agar ide tersebut dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan, kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk menjadikan kreativitas daerah sebagai kekuatan ekonomi baru.
Menurutnya, potensi talenta lokal perlu mendapatkan ruang, pendampingan, dan akses pasar agar mampu berkembang serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat, termasuk membuka lapangan kerja.
“Jangan pernah meremehkan ide yang terlihat sederhana. Dari minyak jelantah bisa lahir sebuah produk, dari cerita bisa lahir penghidupan, dan dari kreativitas anak-anak daerah bisa lahir kekuatan ekonomi baru. Kita ingin memastikan, tidak ada potensi kreatif yang berhenti hanya karena tidak punya akses dan kesempatan,” ujar Riefky.
Melalui IDE.IND, Kementerian Ekonomi Kreatif berharap semakin banyak talenta daerah yang berani mengembangkan gagasan, menciptakan inovasi, dan menjadikan kreativitas sebagai sumber pertumbuhan ekonomi.
Kisah Jelvora menjadi salah satu buktinya. Dari minyak jelantah yang kerap dianggap tidak berguna, empat mahasiswi Cirebon berhasil menghadirkan inovasi yang bukan hanya berpotensi menghasilkan keuntungan, tetapi juga membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan.***











