CIREBON – Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon kembali melahirkan lulusan baru melalui prosesi Wisuda ke-78 Tahun Akademik 2026/2027 yang digelar di Auditorium Kampus 1 UGJ, Jalan Pemuda, Kota Cirebon, Sabtu (24/10/2026).
Dalam wisuda periode Oktober 2026 tersebut, UGJ melepas sekitar 750 wisudawan dari jenjang Sarjana (S1), Profesi, hingga Magister (S2). Dengan tambahan lulusan ini, jumlah alumni UGJ kini telah melampaui 55 ribu orang.
Rektor UGJ, Prof. Dr. Ir. H. Achmad Faqih, S.P., M.M., mengatakan para lulusan telah dibekali ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadukan teori dengan praktik. Pembekalan tersebut diharapkan menjadi modal bagi alumni untuk menghadapi persaingan di dunia kerja, bisnis, maupun usaha.
Menurutnya, UGJ berkomitmen menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri dan mampu beradaptasi dengan dinamika perubahan zaman.
“Kami berharap para lulusan bisa bersaing di masyarakat dan membuktikan bahwa UGJ melahirkan lulusan terbaik yang link and match dengan dunia kerja, dunia bisnis, dan dunia usaha,” ujar Achmad Faqih.
Tak hanya diarahkan untuk menjadi tenaga kerja profesional, para wisudawan juga didorong untuk menjadi wirausahawan muda yang mampu menciptakan peluang usaha dan membuka lapangan kerja baru.
Untuk meningkatkan kesiapan lulusan, UGJ menerapkan pola pembelajaran 2-1-1 dengan komposisi 60 persen teori dan 40 persen praktik.
Melalui skema tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep akademis di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menerapkan ilmu sesuai bidang keahliannya.
Achmad Faqih berharap, keseimbangan antara teori dan praktik dapat membantu lulusan menghadapi tantangan dunia profesional sekaligus meningkatkan daya saing mereka di tengah perubahan kebutuhan industri.
UGJ juga memperluas pengalaman mahasiswa melalui program magang internasional yang telah berjalan selama hampir lima tahun terakhir.
Sejumlah mahasiswa berkesempatan mengikuti program internship di berbagai negara, di antaranya Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Malaysia.
Pengalaman tersebut diharapkan memperluas wawasan mahasiswa mengenai budaya kerja internasional, meningkatkan kemampuan beradaptasi, serta membangun kepercayaan diri untuk berkompetisi di tingkat global.
“Kondisi disrupsi global yang begitu tinggi, lulusan kita harus mampu bersaing, baik dengan lulusan dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.
Ia menilai, persaingan tenaga kerja saat ini semakin terbuka seiring banyaknya perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia dan tenaga kerja asing yang turut mengisi berbagai sektor industri.
Atas hal itu, penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan profesional, pemahaman terhadap globalisasi, serta kemampuan berbahasa menjadi bekal penting bagi lulusan perguruan tinggi.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati (YPSGJ), Prof. Dr. H. Mukarto Siswoyo, Drs., M.Si., menegaskan, lulusan perguruan tinggi harus memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA).
Menurut Mukarto, lulusan UGJ tidak cukup hanya mengandalkan ijazah dan transkrip nilai. Mereka juga perlu menguasai hard skill, soft skill, serta future skill yang mendukung kesiapan menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan pasar kerja.
Ia mengatakan, penyesuaian kurikulum dan pembekalan keterampilan menjadi penting karena kebutuhan pengguna lulusan terus berkembang secara dinamis.
“Kita meyakini lulusan UGJ akan memiliki employability yang kuat, kompetitif, serta daya saing yang tinggi di masyarakat,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, YPSGJ bersama pengelola universitas memperkenalkan Big Bang Reformation Curriculum, yakni reformasi kurikulum secara menyeluruh untuk merespons perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Melalui pembaruan ini, UGJ mengintegrasikan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), big data, hingga blockchain ke dalam pembelajaran di berbagai program studi. Materi yang diberikan akan disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing jurusan.
Mukarto menegaskan, pemanfaatan teknologi, termasuk AI, dapat membantu dosen dan mahasiswa bekerja lebih cepat, efisien, serta efektif. Namun, penggunaannya tetap harus berlandaskan etika akademik dan integritas.
Mahasiswa diperbolehkan memanfaatkan AI untuk mencari ide, membantu analisis, maupun menemukan referensi jurnal. Kendati demikian, AI tidak boleh menggantikan peran mahasiswa dalam mengerjakan tugas akademik atau menyusun karya ilmiah.
“Keputusan akhir tetap ada pada dosen dan mahasiswa. Mahasiswa dipersilakan menggunakan AI untuk mencari ide, menganalisis, atau menemukan sumber referensi jurnal dengan cepat. Namun, mengerjakan tugas, apalagi membuat skripsi menggunakan hasil murni dari AI, dilarang keras,” tegas Mukarto.
Melalui penguatan kompetensi, pengalaman magang internasional, serta reformasi kurikulum yang adaptif terhadap teknologi, UGJ berharap para lulusannya mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus bersaing di tingkat nasional maupun global.***











