CIREBON – Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon tmemperluas jejaring internasional melalui program pengabdian masyarakat lintas negara.
Kali ini, UGJ menggandeng Universiti Utara Malaysia (UUM) dalam kegiatan International Community Service bertajuk “UGJ Impact: International Multicultural Partnership for Action and Community Transformation”.
Program yang menjadi bagian dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional tersebut resmi dibuka di Auditorium Kampus 1 UGJ, Senin (2/11/2026).
Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk belajar, bertukar pengalaman, sekaligus berkontribusi langsung kepada masyarakat.
Pembukaan KKN Internasional UGJ dihadiri Rektor UGJ, jajaran pimpinan universitas, mahasiswa UUM beserta dosen pembimbing, mahasiswa internasional yang sedang menempuh pendidikan di UGJ, serta mahasiswa kelas internasional.
Melalui program ini, UGJ tidak hanya memperkuat hubungan antarlembaga pendidikan tinggi, tetapi juga membuka ruang pembelajaran lintas budaya yang diharapkan mampu membentuk mahasiswa berwawasan global.
Rektor UGJ, Prof. Dr. Ir. H. Achmad Faqih, SP., M.M., ASEN Eng., mengatakan, internasionalisasi pendidikan tinggi menjadi salah satu upaya universitas dalam meningkatkan kiprah di tingkat global.
UGJ juga tengah mempersiapkan mahasiswa untuk mengikuti program pengabdian masyarakat di luar negeri, baik di Malaysia maupun negara mitra lainnya.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam kegiatan internasional menjadi bagian penting dalam memperluas pengalaman akademik sekaligus meningkatkan kinerja internasional UGJ pada 2026.
“Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik, tetapi juga kesempatan untuk mengenal budaya negara lain dan belajar berinteraksi dalam lingkungan multikultural,” ujarnya.
Selain memperkuat hubungan internasional, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa UUM untuk mengenal lebih dekat potensi lokal Cirebon dan wilayah sekitarnya.
UGJ memiliki sejumlah desa dan wilayah binaan dengan karakteristik yang beragam. Mulai dari desa penghasil kopi, kelurahan di Kota Cirebon, hingga desa yang mempertahankan kekayaan budaya dan bahasa daerah.
Di antaranya desa berbahasa Sunda di Kabupaten Kuningan serta desa yang menggunakan bahasa Cirebon dalam kehidupan sehari-hari.
Keberagaman tersebut akan diperkenalkan kepada peserta melalui rangkaian kegiatan, termasuk kunjungan atau city tour ke sejumlah desa binaan UGJ.
“Keragaman ini dihadirkan untuk memberikan pengalaman langsung mengenai keunikan budaya lokal di Cirebon dan sekitarnya kepada para rombongan. Selain itu, rangkaian kegiatan juga akan diisi dengan city tour ke desa-desa binaan,” tandasnya.
UGJ juga berencana memperluas kerja sama pengabdian masyarakat dengan UUM. Sebagai tindak lanjut dari kolaborasi tersebut, universitas tengah merancang program KKN dan pengabdian kepada masyarakat yang akan dilaksanakan di Malaysia pada tahun mendatang.
Rencana ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat hubungan persaudaraan sekaligus membuka peluang pertukaran pengalaman antara kedua perguruan tinggi.
Kepala Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) UGJ, Dr. Ipik Permana, S.IP., M.Si., menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa UUM merupakan bagian dari keberlanjutan kerja sama internasional yang telah terjalin antara kedua universitas.
Ia menyambut hangat kedatangan delegasi UUM, khususnya para mahasiswa yang kembali berkunjung ke UGJ untuk kedua kalinya.
Selama berada di Cirebon, mahasiswa UUM dijadwalkan mengikuti kegiatan community service selama satu minggu. Selain menjalankan program pengabdian kepada masyarakat, peserta juga akan memperoleh pengalaman pembelajaran bahasa dan budaya Cirebon.
Rangkaian kegiatan turut mencakup kunjungan ke lingkungan Pemerintah Kota Cirebon. Kunjungan tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai kehidupan sosial, budaya, serta tata kelola pemerintahan daerah.
Dosen pembimbing UUM, Encik Khairil Azfar Bin Ahmad Zubair, mengapresiasi sambutan hangat yang diberikan UGJ kepada rombongan mahasiswa Malaysia.
Ia berharap kerja sama antara UUM dan UGJ dapat terus berkembang melalui berbagai program akademik maupun pengabdian masyarakat.
Azfar menjelaskan, program pengabdian masyarakat di Malaysia dikenal dengan istilah bakti siswa. Melalui kegiatan bersama ini, kedua universitas memiliki kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dan metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.
Salah satu hal yang ingin dipelajari pihak UUM, kata dia, adalah pola serta mekanisme pelaksanaan KKN yang diterapkan UGJ.
“Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut di masa depan. Melalui program ini, kedua universitas dapat saling berbagi pengalaman dan metode dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat,” ujarnya.
Sebagai bentuk keberlanjutan hubungan tersebut, UUM juga mengundang sivitas akademika UGJ untuk berkunjung ke Malaysia dan merasakan pengalaman mengikuti kegiatan serupa di kampus mereka.
Antusiasme mengikuti KKN Internasional juga dirasakan mahasiswa UUM. Marna Afnanda binti Ariwowo, mahasiswa semester akhir program studi Bachelor of Applied Linguistics and Business Administration UUM, mengaku senang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut.
Baginya, program ini menjadi kesempatan berharga untuk mendapatkan pengalaman pengabdian masyarakat di luar negeri sekaligus membangun interaksi dengan mahasiswa UGJ dan masyarakat lokal.
“Harapan kami dari program ini adalah dapat belajar lebih banyak, memperoleh pengalaman KKN internasional, serta berinteraksi dan menjalankan proyek komunitas yang bermakna (meaningful community project) bersama masyarakat dan mahasiswa UGJ,” ungkap Marna.
Selama dua hari pertama berada di Cirebon, Marna mengaku mendapatkan kesan positif. Ia merasakan sambutan hangat dari panitia serta fasilitas yang disediakan UGJ untuk mendukung kegiatan para peserta.
Marna juga mulai mengenali sejumlah karakteristik lokal Cirebon yang berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya di Malaysia.
Meski mengaku merasakan cuaca Cirebon yang cukup panas, ia tertarik dengan pemandangan pegunungan serta kondisi lalu lintas yang didominasi kendaraan roda dua.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran budaya yang diperoleh mahasiswa selama mengikuti program KKN Internasional.
Selain kegiatan pengabdian masyarakat, pembukaan KKN Internasional UGJ juga diisi dengan Focus Group Discussion (FGD) bertema keberagaman budaya negara asal mahasiswa internasional UGJ.
Forum tersebut menghadirkan perspektif budaya dari mahasiswa yang berasal dari Indonesia, Timor Leste, Sudan, Afganistan, dan Malaysia.
Dalam diskusi tersebut, mahasiswa berkesempatan memperkenalkan tradisi, nilai-nilai sosial, kebiasaan, serta karakteristik budaya dari negara masing-masing.
FGD menjadi ruang dialog lintas budaya yang mempertemukan mahasiswa dari latar belakang berbeda.
Melalui pertukaran pengalaman tersebut, peserta diharapkan semakin memahami keberagaman sekaligus menumbuhkan sikap terbuka dan toleransi.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya UGJ membangun lingkungan akademik internasional yang inklusif, dengan keberagaman sebagai kekuatan dalam proses pembelajaran.
Melalui program “UGJ Impact: International Multicultural Partnership for Action and Community Transformation”, UGJ menegaskan komitmennya dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi.
Kolaborasi ini tidak hanya diarahkan pada pengembangan jejaring global, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata dan kontribusi sosial di tengah masyarakat.
UGJ melibatkan mahasiswa dari berbagai negara, dengan harapan dapat melahirkan generasi muda yang memiliki wawasan internasional, mampu beradaptasi dalam lingkungan multikultural, serta menjadi agen perubahan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.***











