CIREBON – Setidaknya sudah 11 tahun berjalan Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC) dan juga Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung menghasilkan berbagai macam produk penelitian arsitektur maupun budaya di Kota maupun Kabupaten Cirebon.
STTC yang saat ini sedang dalam proses merger dengan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) tersebut pada tahun ini melakukan penelitian dengan tema Pengembangan Wisata Berbasis Potensi Lokal Cirebon.
Kepala Program Studi Arsitektur STTC, Nurhidayah mengatakan seminar kali ini merupakan bagian publikasi dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan oleh dosen STTC.
“Ini merupakan tahun ke 11 kita bekerjasama dengan UNPAR untuk mengabdi kepada masyarakat, namun kali ini kita selenggarakan di UMC karena kita sedang melakukan merger dengan UMC, dan mungkin akan berkembang lagi,” katanya, Kamis (29/10/2026).
Beberapa produk penelitian tersebut sudah dilakukan implementasi oleh Pemerintah Daerah Kota Cirebon, contohnya kampung arab yang ada di kawasan Panjunan, dan juga kawasan Pecinan yang berada di dekat Pasar Kanoman Cirebon.
“Kita juga mengundang berbagai stakeholder dinas terkait yakni Baperrida Kabupaten maupun Kota Cirebon, agar dari penelitian ini dapat menjadi fitur buat pemerintah untuk mendorong bagaimana pergerakan wisata kedepan sehingga menjadi arah kebijakan pemerintah daerah,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Arsitektur UNPAR, Dimas Hartawan Wicaksono mengatakan dalam penelitian kali ini, pihaknya berfokus pada pengembangan potensi pariwisata lokal yang ada di Cirebon.
“Dalam prosesnya sendiri memang sudah ada komunikasi dengan komunitas-komunitas lokal yang ada, namun yang kami targetkan sebenarnya usulan-usulan penelitian itu dapat diimplementasikan oleh pemerintah daerah terkait,” jelasnya.
Menurutnya, terdapat beberapa potensi yang dapat dikembangkan oleh Cirebon selain dari sejarah, salah satunya itu adalah pengembangan wisata kuliner.
“Kuliner Cirebon juga tidak pernah lepas dari kota sejarah seperti Cirebon, karena masing-masing daerah disini punya kekhasan kulinernya masing-masing,” tuturnya.
Ia juga menilai, di Cirebon sendiri terdapat beberapa akar budaya yang menjadi sejarah di kota lainnya.
“Tadi sudah disebutkan dalam penelitian, jadi akarnya ada di Cirebon, namun budaya tersebut di tempat lain lebih berkembang,” paparnya.*(Sakti)











