CIREBON — Lonjakan kasus campak di wilayah Cirebon memakan korban jiwa. Dua balita berinisial K dan D, masing-masing berasal dari Kota dan Kabupaten Cirebon, meninggal dunia akibat penyakit yang tengah merebak tersebut. Keduanya diketahui masih berusia di bawah dua tahun.
Dokter spesialis anak RS Gunung Jati, dr. Suci Saptyuni, mengungkapkan bahwa selain terinfeksi campak, kedua balita juga memiliki penyakit penyerta yang memperparah kondisi. “Ada faktor komorbid seperti radang paru-paru dan kelainan jantung bawaan,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Kondisi salah satu pasien bahkan memburuk dengan sangat cepat. Balita berinisial D, kata Suci, hanya menjalani perawatan kurang dari 24 jam. “Selain penyakit pemberat, anak tersebut juga belum mendapatkan imunisasi,” jelasnya.
Di tengah situasi ini, tenaga medis menekankan pentingnya percepatan imunisasi sebagai langkah utama pencegahan. Rekomendasi dari organisasi dokter anak Indonesia mendorong pelaksanaan imunisasi kejar serta skrining bagi anak usia 9 bulan hingga di bawah 15 tahun.
Tak hanya anak-anak, tenaga kesehatan juga diwajibkan menjalani vaksinasi. “Ada rekomendasi khusus pada April ini untuk vaksinasi tenaga kesehatan, dan itu sudah diatur oleh Kementerian Kesehatan,” tambah Suci.
Upaya pengendalian infeksi juga diperketat di lingkungan rumah sakit. Pasien campak kini dirawat secara terpisah melalui sistem isolasi guna mencegah penularan ke pasien lain. Namun, keterbatasan ruang isolasi menjadi tantangan tersendiri. “Karena ruang terbatas, kami juga memperkuat tata laksana penanganan pasien,” paparnya.
Sementara itu, Direktur Utama RS Gunung Jati, dr Katibi, memaparkan data terbaru terkait kasus campak di fasilitas yang dipimpinnya. Sejak Januari hingga 16 April 2026, tercatat enam kasus campak dari layanan rawat jalan. Namun, jumlah kasus yang masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) jauh lebih tinggi.
“Ada sekitar 50 kasus yang akhirnya dirawat inap melalui IGD,” ungkapnya.
Tingginya angka tersebut, menurut Katibi, baru mencerminkan sebagian dari kondisi di lapangan. Ia menduga jumlah kasus di fasilitas kesehatan tingkat pertama bisa lebih besar.
Sebagai langkah antisipasi, RS Gunung Jati kini menyiapkan ruang isolasi di setiap gedung perawatan untuk menekan risiko penularan di rumah sakit. “Kami berupaya meminimalkan penularan intra-rumah sakit semaksimal mungkin,” tutupnya.***











