CIREBON – Siswi SMP Negeri 5 Kota Cirebon mendapatkan juara pertama lomba tari kreasi pada ajang Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kota Cirebon.
Franciska Erwanto, Valisha Sybia, Alaika Marsya amalia, Anindya Khanza, dan Siti Azzahra menjadi juara setelah menyingkirkan 9 sekolah lainnya yang menjadi pesaing terberat.
Franciska mengatakan, dirinya memilih menyukai tari karena kesenian tari tradisional mulai ditinggalkan oleh generasi saat ini, hal tersebut sekaligus bentuk melestarikan kesenian tradisional.
“Karena tari itu jarang banget dipakai oleh anak-anak modern sekarang, jadi kaya jejaknya bakal hilang,” katanya, Selasa (19/5/2026).
Ia mulai menekuni dunia menari sendiri sejak usianya menginjak 6 tahun dan sampai saat ini bakatnya menari terus dilatih.
Dalam perjalanannya untuk menjadi juara FLS3N tersebut ia bersama dengan teman-temannya berlatih selama 1,5 bulan untuk membawakan tarian dengan tema pesta giling pabrik gula Sindanglaut.
Sementara itu, Valisha Sybia mengaku menyukai dunia tari sejak umurnya menginjak 8 tahun.
“Berlatih olah tubuh setiap hari dengan konsisten dan juga, latihan setiap hari, kalau ada event pasti latihan sampai malam,” tuturnya.
Dirinya bercerita, pengumuman pemenang FLS3N sendiri saat malam hari pukul 21.00. Saat diumumkan menjadi juara, ia mengaku bangga dapat mengharumkan nama orang tua, maupun sekolah.
Ia juga mengaku sering tertinggal pelajaran ketika mengikuti lomba atau latihan yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi.
“Sering, memang tidak boleh meninggalkan tugas, tapi kadang kalau jam istirahat kita selalu ngerjain tugas,” paparnya.
Alaika Marsya menyampaikan, kesulitan dalam belajar menari adalah menguasai wiraga, wirasa, dan wirama.
“Semuanya butuh proses untuk menguasai 3W itu, butuh kerja keras dan juga latihan yang rutin,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, akan terus berlatih terutama akan berlaga di ajang FLS3N tingkat provinsi Jawa Barat yang akan dijadwalkan pada bulan Juli nanti.
Disisi lain, Pembimbing Tari Ichwa Muslihah mengatakan, perjalanan tari sendiri di SMP Negeri 5 Kota Cirebon tidak hanya sekali menjadi juara.
“Bukan kali pertama kita juara satu, tapi memang pada tahun 2024 sampai 2025 lalu kita belum menjadi juara, baru ketemu lagi juara tahun 2026 ini,” jelasnya.
Bahkan, ia mengajar menari sejak tahun 2008 lalu dan mengalami perjalanan panjang sampai dengan saat ini.
“Yang menjadi juara tahun ini sendiri merupakan siswi-siswi yang memiliki basic menari, proses panjang kita ini berdarah-darah bukan hanya kebetulan,” paparnya.
Menurutnya, dalam ajang FLS3N yang menjadi tantangan tersendiri adalah mematahkan stigma bahwa Cirebon memiliki identitas hanya laut.
“Jadi saya ingin beda, sebenarnya banyak pesta rakyat lain, tapi kita mengangkat tentang pesta giling pabrik gula Sindanglaut,” jelasnya.***(Sakti)











