BisnisCirebon

Triwulan I 2026, Kredit BPR di Ciayumajakuning Tumbuh 5,31 Persen

881
×

Triwulan I 2026, Kredit BPR di Ciayumajakuning Tumbuh 5,31 Persen

Sebarkan artikel ini

CIREBON — Kinerja sektor perbankan di wilayah Ciayumajakuning pada Triwulan I 2026 menunjukkan tren positif.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon mencatat pertumbuhan positif pada berbagai indikator utama, mulai dari penyaluran kredit hingga penguatan permodalan.

Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menegaskan bahwa performa Bank Perekonomian Rakyat (BPR) menjadi salah satu penopang utama pergerakan ekonomi daerah.

“Secara umum, kinerja BPR di Ciayumajakuning menunjukkan pertumbuhan yang solid. Ini tercermin dari peningkatan kredit yang diikuti dengan membaiknya kualitas pembiayaan,” ujarnya.

Hingga Maret 2026, penyaluran kredit BPR tercatat mencapai Rp2,162 triliun atau tumbuh 5,31 persen secara tahunan (yoy). Kenaikan ini juga diiringi perbaikan kualitas kredit, ditandai dengan penurunan rasio kredit bermasalah (NPL) hingga lebih dari 2 persen.

Tak hanya itu, aset BPR turut meningkat menjadi Rp2,96 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp2,24 triliun. Dari sisi permodalan, rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) tetap kuat di level 21,74 persen—menunjukkan ketahanan sektor ini dalam menghadapi risiko.

Namun demikian, Agus mengingatkan adanya tekanan pada aspek rentabilitas. Rasio ROA tercatat menurun menjadi 2,10 persen, sejalan dengan meningkatnya rasio efisiensi (BOPO).

“Ini menjadi catatan penting bagi BPR agar terus meningkatkan efisiensi operasional tanpa mengganggu ekspansi bisnis,” katanya.

Kredit Konsumsi Masih Dominan

Secara sektoral, penyaluran kredit BPR masih didominasi kategori non-lapangan usaha lainnya sebesar 40,74 persen, disusul sektor perdagangan sebesar 34,94 persen. Sementara sektor pertanian dan jasa sosial masih berada di bawah 4 persen.

Di sisi lain, kinerja Bank Umum juga menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit mencapai Rp48,19 triliun, dengan pertumbuhan signifikan secara year-to-date sebesar 37,01 persen. Kredit konsumsi menjadi kontributor terbesar dengan porsi hampir setengah dari total kredit.

Meski begitu, Agus menilai pertumbuhan kredit investasi yang mulai meningkat menjadi sinyal baik bagi ekspansi sektor riil.

Perbankan Syariah Tumbuh Stabil

Kinerja Bank Umum Syariah di wilayah ini juga tak kalah menjanjikan. Pembiayaan tumbuh menjadi Rp7,78 triliun dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) tetap terjaga di level 2,82 persen.

“Meski ada penurunan DPK, kondisinya masih dalam batas aman. Kami melihat sektor syariah tetap memiliki ruang tumbuh yang besar,” ujar Agus.

OJK Perkuat Pengawasan dan Edukasi

Untuk menjaga momentum positif ini, OJK Cirebon terus memperkuat pengawasan, termasuk implementasi strategi anti-fraud sesuai regulasi terbaru serta mendorong konsolidasi BPR.

Selain itu, melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), OJK juga menggencarkan edukasi keuangan—terutama sektor syariah—guna meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

“Kami ingin memastikan pertumbuhan ini tidak hanya kuat secara angka, tetapi juga berkualitas dan inklusif,” tegas Agus.

Tren yang terus menguat, sektor perbankan di Ciayumajakuning dinilai semakin siap menjadi motor penggerak ekonomi daerah di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan.***