CIREBON – Kondisi hydrant di Kota Cirebon memprihatinkan. Dari total 180 titik hydrant yang tersebar di berbagai wilayah, hanya 11 titik yang saat ini berfungsi normal.
Kondisi tersebut dikeluhkan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Cirebon karena dinilai dapat menghambat proses penanganan kebakaran.
Kepala DPKP Kota Cirebon, Andi Riskiyanto mengatakan, sebagian besar hydrant yang ada tidak dapat digunakan saat kondisi darurat. Padahal, keberadaan hydrant menjadi salah satu sumber air utama dalam proses pemadaman api.
“Di Kota Cirebon ada sekitar 180 titik hydrant yang dikelola Perumda Air Minum Tirta Giri Nata. Namun yang berfungsi saat ini hanya 11 titik saja. DPKP hanya sebagai pengguna, sedangkan pemeliharaan menjadi kewenangan PDAM,” ujar Andi, Senin (11/5/2026).
Selain banyak yang rusak, sejumlah hydrant juga mengalami kehilangan konektor akibat aksi pencurian. Kondisi tersebut semakin menyulitkan petugas ketika harus bergerak cepat menangani kebakaran.
Menurut Andi, dalam beberapa kejadian kebakaran besar, petugas bahkan harus mengambil pasokan air dari lokasi lain yang cukup jauh dari titik kebakaran.
“Ketika terjadi kebakaran di TPA Kopiluhur misalnya, kami mengambil suplai air dari Bandara Penggung karena itu lokasi terdekat yang bisa digunakan,” katanya.
DPKP Kota Cirebon menilai hydrant seharusnya mendapatkan perawatan rutin minimal satu kali dalam setahun, termasuk pengecekan tekanan air agar tetap stabil saat digunakan.
Ia menjelaskan, tekanan air hydrant kerap tidak menentu ketika dipakai untuk pemadaman karena dipengaruhi tingginya konsumsi air masyarakat di waktu bersamaan.
“Yang paling penting sebenarnya tekanan air harus stabil. Sering kali saat digunakan untuk pemadaman, tekanan air hydrant tidak maksimal karena penggunaan air masyarakat juga tinggi,” ungkapnya.
DPKP pun berencana melakukan koordinasi dengan Perumda Air Minum Tirta Giri Nata guna membahas perawatan dan optimalisasi hydrant di Kota Cirebon.
Andi berharap ke depan setiap ruas jalan di Kota Cirebon minimal memiliki dua titik hydrant aktif agar proses pemadaman kebakaran dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
“Kami berharap setiap ruas jalan setidaknya memiliki dua hydrant aktif supaya petugas tidak kesulitan mendapatkan pasokan air saat terjadi kebakaran,” pungkasnya.***











