CIREBON – Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Catur Insan Cendekia melakukan pengabdian masyarakat berupa pembinaan terhadap belasan UMKM yang ada di Kota dan Kabupaten Cirebon.
Pembinaan tersebut berupa pembuatan NIB, pembuatan promosi, pembuatan QRIS, dan berbagai literasi digital lainnya.
Salah seorang PIC program studi Manajemen Nur Widya Ramadhani mengatakan, pihaknya menginginkan perbaikan terhadap UMKM yang ada di Kota maupun Kabupaten Cirebon.
“Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk UMKM naik kelas, baik rebranding logo, pemahaman terhadap packaging, dan juga konten promosi media sosial,” katanya, Kamis (23/7/2026).
Dalam pengabdian masyarakat tersebut, setidaknya terdapat 19 UMKM yang dilakukan pembinaan dan pemberian literasi digital.
Program tersebut sendiri dimulai dari awal Juni sampai dengan akhir Juni 2026. Berdasarkan kondisi dilapangan, UMKM sendiri masih kurang memahami konten promosi digital.
“Sekarang kan sudah jamannya digitalisasi, jadi kita itu kalau mau tau lokasinya pasti mencari di platform digital, nah yang kita temukan masih ada UMKM yang belum memanfaatkan hal tersebut,” paparnya.
Sementara itu, PIC dari program Akuntansi Tiara Maharani mengatakan, terdapat juga permasalahan UMKM yang belum memakai QRIS sebagai metode pembayaran.
“Karena memang anak-anak sekarang itu kebanyakan sudah cashless, lalu juga UMKM sendiri belum terdaftar di sebagai merchant aplikasi ojek online, untuk itu kita lakukan pendampingan pembuatan QRIS maupun pendaftaran ke aplikator sebagai merchant,” tuturnya.
Dalam pengabdian masyarakat tersebut, yang menjadi kendala adalah kurangnya pemahaman pemilik UMKM.
Dalam pengabdian tersebut juga, diterangkan terkait manajemen keuangan kepada para UMKM.
“Karena masih sering terjadi yang pribadi dengan uang usaha masih tercampur yamv seharusnya tidak boleh seperti itu, ya kita berikan pemahaman,” tuturnya.
Sementara itu, PIC dari program studi Manajemen Bisnis Suwarman mengungkapkan kecenderungan untuk nyaman dengan metode cash juga menjadi permasalahan tersendiri.
“Jadi penjual itu masih nyaman dengan metode cash itu yang masih menjadi permasalahan, karena memang tingkat penjualan tanpa adanya digitalisasi dirasa masih oke,” katanya.***(Sakti)











