BeritaCirebon

Agung Supirno Ungkap Persoalan Jalan dan Sampah saat Reses di Wanacala

881
×

Agung Supirno Ungkap Persoalan Jalan dan Sampah saat Reses di Wanacala

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Persoalan infrastruktur dan lingkungan menjadi sorotan Anggota DPRD Kota Cirebon, Agung Supirno, saat melaksanakan reses Masa Persidangan III Tahun 2026 di RW 08 Wanacala, Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Selasa (18/8/2026).

Dalam reses di Dapil 4 Harjamukti B tersebut, Agung tidak hanya berdialog dengan masyarakat, tetapi juga turun langsung meninjau sejumlah persoalan yang selama ini menjadi perhatian warga.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah kondisi akses jalan warga yang belum seluruhnya mendapatkan perbaikan. Sejumlah ruas jalan di kawasan tersebut masih berupa tanah merah dan belum pernah mendapatkan pengaspalan.

Agung mengatakan, peninjauan langsung dilakukan setelah pengurus RW menyampaikan sejumlah aspirasi terkait kondisi infrastruktur di wilayah Wanacala.

“Ada beberapa jalan yang memang belum pernah diaspal sama sekali, padahal itu menjadi akses masyarakat,” kata Agung.

Menurutnya, kondisi tersebut cukup menyulitkan aktivitas warga, terutama ketika memasuki musim hujan. Jalan yang masih berupa tanah merah akan menjadi licin dan berpotensi mengganggu mobilitas masyarakat.

Agung Soroti Tumpukan Sampah Capai 10 Damtruk

Selain persoalan jalan, Agung juga menyoroti tumpukan sampah di wilayah RW 08 Wanacala. Berdasarkan hasil peninjauannya, volume sampah yang menumpuk di salah satu lokasi diperkirakan mencapai sekitar 10 damtruk.

Kondisi tersebut dinilai perlu segera ditangani karena lokasi tumpukan sampah berada tidak jauh dari aliran sungai.

Agung khawatir, jika tidak segera dibersihkan, tumpukan sampah dapat terbawa aliran air ketika hujan turun. Kondisi itu berpotensi menimbulkan persoalan baru, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah lebih rendah.

Karena itu, ia meminta agar persoalan tersebut tidak hanya diselesaikan dari sisi pengangkutan sampah, tetapi juga diikuti perubahan perilaku masyarakat.

“Kalau sudah dikeruk, jangan dibuang lagi di situ. Kalau kebiasaan ini terus dilakukan, masalahnya tidak akan pernah selesai,” ujarnya.

Agung menegaskan, persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Kebiasaan membuang sampah sembarangan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat berdampak kepada warga lain yang berada di wilayah lebih rendah.

Untuk penanganan jangka pendek, Agung mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon. Dari hasil komunikasi tersebut, DLH pada prinsipnya siap membantu menyediakan damtruk untuk mengangkut tumpukan sampah.

Namun, kendala muncul karena alat berat yang dimiliki DLH berukuran cukup besar sehingga dikhawatirkan tidak dapat masuk ke lokasi.

“DLH sudah siap, kapan saja bisa menyediakan damtruk. Tapi alat beratnya besar dan kemungkinan akan mentok tembok. Karena itu saya akan minta kerja sama dengan PUTR, karena PUTR punya alat berat yang lebih kecil,” jelas Agung.

Ia berharap koordinasi antara DLH dan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) dapat segera dilakukan sehingga tumpukan sampah di Wanacala bisa ditangani secepatnya.

Di sisi lain, Agung juga menyoroti kebutuhan infrastruktur lain di kawasan Wanacala, termasuk fasilitas warga yang masih dalam tahap pengerjaan dan dibutuhkan untuk mendukung berbagai kegiatan masyarakat.

Menurut Agung, Wanacala merupakan salah satu kawasan pinggiran Kota Cirebon yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah daerah.

Selain memiliki wilayah yang cukup luas, sejumlah akses jalan di kawasan tersebut juga relatif sempit dengan lebar sekitar tiga meter. Kondisi ini membuat pembangunan infrastruktur membutuhkan dukungan anggaran yang lebih besar dan tidak bisa hanya mengandalkan pokok-pokok pikiran (pokir) anggota DPRD.

“Kalau hanya mengandalkan pokok-pokok pikiran (pokir) saya di DPRD tentu tidak akan mampu, karena wilayahnya sangat luas dan kebutuhan infrastrukturnya banyak,” katanya.

Agung pun mendorong agar pembangunan di Wanacala mendapat dukungan dari berbagai pos anggaran pemerintah, sehingga kebutuhan masyarakat dapat ditangani secara bertahap dan berkelanjutan.

Ia menilai, kawasan pinggiran Kota Cirebon harus memperoleh perhatian pembangunan yang seimbang dengan wilayah lainnya.

Sebab, masyarakat di kawasan tersebut memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses jalan yang layak, lingkungan yang bersih, serta pelayanan publik yang memadai.

Sementara itu, Lurah Harjamukti, Beny, mengapresiasi pelaksanaan reses Agung Supirno di RW 08 Wanacala.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah kelurahan dan masyarakat untuk menyampaikan berbagai kebutuhan secara langsung kepada wakil rakyat sekaligus melihat perkembangan pembangunan di lapangan.

“Ini perdana saya menghadiri reses Pak Agung Supirno. Artinya, bantuan melalui pokir dewan ada beberapa hal yang bisa membantu kelurahan. Dengan adanya program Pak Agung hadir di RW 08 Wanacala, kami dari pihak kelurahan sangat terbantu,” ujar Beny.

Beny mengungkapkan, saat ini terdapat enam titik jalan di Wanacala yang masuk dalam program pengaspalan menggunakan anggaran Dana Alokasi Umum (DAU).

Dari enam titik tersebut, tiga di antaranya telah dikerjakan, sedangkan tiga titik lainnya masih dalam proses.

“Di RW 08 Wanacala kita sedang dalam proses pengaspalan enam titik. Kemarin sudah sekitar tiga titik yang dikerjakan, tinggal tiga titik lagi,” katanya.

Melalui reses tersebut, Agung berharap berbagai aspirasi masyarakat Wanacala tidak berhenti pada penyampaian keluhan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas perangkat daerah.

Menurutnya, persoalan jalan, sampah, dan kebutuhan fasilitas masyarakat harus ditangani secara bersama agar pembangunan di kawasan pinggiran Kota Cirebon dapat berjalan lebih merata.***