CIREBON – Warga RW 09 Situgangga, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, terus mengembangkan ekonomi kreatif berbasis pemberdayaan masyarakat.
Berkolaborasi dengan Gravilea, warga mengolah limbah serabut kelapa menjadi media tanam ramah lingkungan sekaligus mengembangkan usaha budidaya ikan dan peternakan ayam.
Upaya tersebut tidak hanya berorientasi pada pengembangan usaha, tetapi juga membuka peluang kerja dan menambah penghasilan masyarakat setempat.
Ketua RW 09 Situgangga, Komar, mengatakan pengembangan ekonomi kreatif dilakukan melalui sejumlah kegiatan produktif, mulai dari budidaya ikan, peternakan ayam, hingga pengolahan limbah serabut kelapa menjadi cocopeat sebagai bahan dasar media tanam.
“Kita juga membuat wadah media tanam menggunakan cocopeat. Di situ sudah mencakup pemberdayaan, sehingga warga bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan,” kata Komar, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, usaha ekonomi kreatif yang dikembangkan bersama masyarakat tersebut terus bertumbuh secara bertahap. Salah satu produk unggulannya adalah wadah media tanam berbahan cocopeat yang dipasarkan melalui pemesanan daring.
Permintaan produk tersebut terbilang menjanjikan. Komar menyebut, pemesanan produk Gravilea saat ini hampir mencapai satu kuintal per hari.
Sementara itu, Founder Gravilea, Giri Cahya, menjelaskan bahwa pemanfaatan serabut kelapa menjadi salah satu inovasi urban farming yang dikembangkan bersama warga Situgangga.
Pemilihan bahan tersebut didasari pertimbangan ramah lingkungan sekaligus potensi limbah kelapa yang dapat diolah menjadi produk bermanfaat.
“Kita memilih serabut kelapa karena ramah lingkungan, dapat menjadi media tanam, dan terbuat 100 persen dari serabut kelapa,” ujar Giri.
Ia menjelaskan, cocopeat memiliki kemampuan menyerap dan mempertahankan kelembapan sehingga dapat membantu menjaga ketersediaan air bagi tanaman. Bobotnya yang ringan juga membuat bahan tersebut mudah dicampurkan dengan media lain, seperti tanah, sekam, maupun kompos.
Tak berhenti pada produksi media tanam, kolaborasi Gravilea dan warga juga merambah sektor perikanan. Budidaya ikan lele dan nila telah dilakukan, bahkan hasil panennya sudah dipasarkan. Selain itu, peternakan ayam turut menjadi bagian dari pengembangan usaha masyarakat.
Pengembangan berbagai sektor tersebut diharapkan dapat memperluas sumber pendapatan warga sekaligus mendorong pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Camat Kesambi, Eko Budiyanto, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan ekonomi kreatif masyarakat, termasuk kegiatan perikanan, peternakan, dan pengolahan sampah organik.
Menurutnya, berbagai kegiatan tersebut dapat saling terhubung dalam upaya mengurangi sampah sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai manfaat.
Salah satu upaya yang dikembangkan adalah budidaya maggot untuk mengolah sampah organik. Maggot yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan maupun ayam petelur.
“Adanya perikanan dan peternakan, kita terus berupaya mengurangi sampah organik. Ada juga budidaya maggot yang nantinya bisa diberikan kembali untuk pakan ikan dan ayam petelur,” tutur Eko.
Ia berharap, pengembangan peternakan ayam petelur juga dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Telur yang dihasilkan direncanakan dapat dibagikan kepada warga.
Melalui kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah kecamatan, RW 09 Situgangga diharapkan mampu mengembangkan ekonomi kreatif yang tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga mendukung pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan warga secara berkelanjutan.*** (Sakti)











