Scroll untuk baca artikel
Gaya Hidup

Ini Alasan Perempuan Rentan Alami Kekerasan

175
×

Ini Alasan Perempuan Rentan Alami Kekerasan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi korban kekerasan (Pexels/RDNE Stock project)

JAKARTA – Psikolog Klinis Forensik dari Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto mengatakan, ada beberapa faktor penyebab perempuan lebih rentan menjadi korban kekerasan dibanding laki-laki, salah satunya bahwa asumsi atau konstruksi sosial masyarakat yang menganggap perempuan lebih lemah.

“Kedua, mungkin ada ketergantungan finansial, emosional, atau ketergantungan sosial di mana mungkin ada ekspresi-ekspresi yang menyatakan bahwa perempuan itu tidak berdaya,” kata Kasandra dilansir dari ANTARA, Jumat (24/11/2023).

Dalam pranata sosial, perempuan kerap kali ditempatkan sebagai tokoh yang harus mengalah. Kasandra juga menekankan bahwa perempuan yang telah menjadi korban kekerasan rentan mengalami kekeresan sekunder.

“Saat kekerasan itu terjadi, seringkali juga diikuti dengan kekerasan sekunder misalnya, banyak orang berpendapat bahwa penyebab kekerasan tersebut karena perempuan,” ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa terdapat profil psikologis yang khas yang membuat seorang perempuan rentan terhadap kekerasan. Selain akibat ketergantungan emosional, finansial, atau sosial, perempuan juga rentan menjadi korban kekerasan akibat pola asuh.

Pola asuh keluarga yang salah dapat melahirkan bibit kekerasan pada anak di masa depan. Entah kelak ia akan menjadi korban yang menoleransi kekerasan, atau bahkan menjadi pelaku.

Kasandra mengatakan bahwa kekerasan dapat terjadi pada siapapun, tanpa memandang latar belakang profesi ataupun latar belakang pendidikan.

“Kekerasan terjadi ketika ada kesenjangan kuasa, yang satu lebih berkuasa daripada yang lain, lebih powerful sehingga melakukan kekerasan terhadap yang dianggap lemah karena ada kesenjangan relasi kuasa,” ujar Kasandra.

Korban yang mengalami kekerasan, kata Kasandra, sulit keluar dari situasi tersebut dan kesulitan meninggalkan pelaku. Kasandra menganalogikan situasi korban layaknya sedang diikat berkali-kali oleh seutas tali.

“Kita bayangkan kalau seutas tali mengikat satu lingkaran saja tentu mudah memutusnya, tetapi kalau diikat berkali-kali sampai 10 atau bahkan 100 kali, gunting macam apa yang bisa menggunting tali tersebut. Walaupun seutas tetapi dijeratnya berkali-kali,” kata Kasandra.*

TiketFest