CIREBON – Penanganan kegawatdaruratan di Kota Cirebon menghadapi tantangan keterbatasan armada dan sumber daya manusia. Untuk memperkuat layanan kepada masyarakat, UPT Pelayanan Kesehatan Khusus atau PSC 119 Kota Cirebon mulai membangun kolaborasi dengan puluhan ambulans yang beroperasi di wilayah Kota Cirebon.
Upaya tersebut diwujudkan melalui pertemuan dan koordinasi yang digelar di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan, Kecamatan Lemahwungkuk, Rabu (7/10/2026).
Puluhan ambulans dari berbagai lembaga sosial dan yayasan berkumpul dalam kegiatan yang digagas PSC 119 Kota Cirebon. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menyamakan persepsi sekaligus membangun sistem koordinasi bersama dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan.
Kepala PSC 119 Kota Cirebon, Wijaya, mengatakan kolaborasi tersebut diperlukan karena PSC 119 tidak mungkin bekerja sendiri dalam menangani seluruh laporan kegawatdaruratan yang masuk.
Menurutnya, keberadaan ambulans milik lembaga sosial maupun yayasan di Kota Cirebon dapat menjadi kekuatan tambahan ketika armada PSC 119 sedang menangani banyak kejadian secara bersamaan.
“Kami mengundang ambulans yang dimiliki lembaga-lembaga sosial di wilayah Kota Cirebon untuk bersilaturahmi dan membangun kolaborasi,” ujar Wijaya.
Saat ini, PSC 119 Kota Cirebon hanya memiliki tiga unit ambulans. Di sisi lain, jumlah panggilan kegawatdaruratan yang diterima mencapai sekitar 150 panggilan setiap bulan.
Keterbatasan juga terjadi dari sisi personel. PSC 119 memiliki sekitar 20 personel, dengan 15 di antaranya merupakan tenaga kesehatan yang sekaligus mencakup pengemudi ambulans. Mereka harus siap memberikan pelayanan selama 24 jam.
“PSC 119 tidak bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan dukungan dari seluruh fasilitas dan armada ambulans yang ada agar penanganan kegawatdaruratan bisa maksimal,” jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut, PSC 119 melakukan pendataan terhadap ambulans yang hadir sekaligus mengajak para pengelolanya untuk menjadi mitra.
Selain membahas pola koordinasi, para pengemudi ambulans juga mendapatkan pembekalan mengenai operasional ambulans, termasuk pemahaman dasar terkait penggunaan sirene saat menjalankan tugas di jalan raya.
Wijaya menyebut, hasil pertemuan mendapat respons positif. Sebanyak 60 ambulans yang hadir menyatakan kesediaannya untuk membangun koordinasi dan membentuk wadah bersama.
Ke depan, wadah tersebut diharapkan dapat menjadi ruang komunikasi antarpengelola ambulans sehingga proses bantuan dapat dilakukan secara lebih cepat ketika PSC 119 membutuhkan dukungan tambahan.
“Mereka merespons positif dan sambutannya baik. Ini memang pertemuan pertama. Mudah-mudahan ke depan bisa berlanjut karena tadi kami juga memilih koordinator, semacam paguyuban ambulans,” katanya.
Menurut Wijaya, pembentukan jejaring ambulans tersebut bukan untuk menggantikan peran PSC 119, melainkan memperkuat sistem penanganan kegawatdaruratan di Kota Cirebon.
Adanya komunikasi dan koordinasi antarpengelola ambulans, diharapkan tidak ada lagi persoalan ketika masyarakat membutuhkan pertolongan darurat sementara armada PSC 119 sedang menangani pasien atau kejadian lain.
“Tujuan utamanya adalah meneguhkan komitmen bersama agar seluruh kondisi kegawatdaruratan yang terjadi di Kota Cirebon dapat tertangani dengan baik,” ujarnya.
Usai kegiatan, puluhan ambulans tersebut kemudian bergerak bersama menuju kantor PSC 119 Kota Cirebon di Jalan Sudharsono, Kecamatan Kesambi.
Konvoi tersebut menjadi penanda awal terbentuknya jejaring ambulans yang diharapkan dapat terus berkembang dan semakin solid.
Wijaya juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila perjalanan konvoi ambulans tersebut sempat mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
“Setelah pertemuan atau kopdar, kami pulang bersama. Mohon maaf kepada para pengguna jalan jika rombongan ambulans yang hendak pulang bersama ini sedikit mengganggu kenyamanan,” katanya.
Langkah PSC 119 membangun jejaring dengan ambulans sosial tersebut mendapat apresiasi dari Sekretaris Komisi III DPRD Kota Cirebon, R Endah Arisyanasakanti SH.
Endah yang juga mengelola satu unit ambulans sosial di bawah yayasan yang dimilikinya turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Ia menilai kolaborasi antarpengelola ambulans merupakan langkah yang dapat memperkuat pelayanan kegawatdaruratan, terutama di tengah keterbatasan fasilitas dan armada yang dimiliki PSC 119.
Terlebih, PSC 119 dituntut untuk tetap siaga selama 24 jam dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Ini langkah yang bagus. Kami mendukung dan mengapresiasi. Tadi saya lihat semua siap memback up PSC 119,” kata Endah.
Menurutnya, kekuatan pelayanan kegawatdaruratan tidak hanya bergantung pada satu institusi. Dengan adanya kerja sama dan komunikasi yang terbangun antarpemilik ambulans, respons terhadap masyarakat yang membutuhkan pertolongan darurat diharapkan dapat semakin cepat.
“Jika bersama, pelayanan sekelas PSC 119 ini tentu akan semakin maksimal,” ujarnya.
Kolaborasi 60 ambulans tersebut kini menjadi langkah awal bagi terbentuknya sistem koordinasi yang lebih luas. Ke depan, jejaring ini diharapkan mampu menjadi salah satu kekuatan pendukung dalam mempercepat penanganan berbagai kondisi kegawatdaruratan di Kota Cirebon.***











