Seorang pria paruh baya bernama Tis Sutisna (48 tahun) duduk dengan tatapan mata yang menyimpan sejuta cerita.
Di balik kesederhanaannya sebagai seorang pemijat panggilan, tersimpan tekad yang melangit demi masa depan putra sulungnya, Maulana. Maulana kini baru saja memulai babak baru dalam hidupnya sebagai siswa kelas 1 SMP di Sekolah Rakyat (SR) Kota Cirebon.
Bagi Tis, perjalanan menyekolahkan Maulana ke sekolah ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari kepasrahan sekaligus harapan besar di tengah impitan ekonomi.
Tis blak-blakan menceritakan bahwa faktor biaya menjadi ganjalan utama bagi keluarganya dalam mencari sekolah. Sempat ada keraguan dan kebingungan, terlebih ketika kerabat dekat tak mampu mengulurkan bantuan.
“Awalnya bingung, di pesantren tidak boleh sama istri. Tapi pas ada teman sesama disabilitas yang peduli, dia menyarankan untuk memasukkan anak saya ke Sekolah Rakyat. Dia bilang, ‘Sudah Tis, masukin ke sana aja, tidak usah mikirin biaya, yang penting anak bisa sekolah,'” ungkap Tis, Kamis (18/6/2026).
Berbekal informasi tersebut, Tis memberanikan diri mendatangi SMP 18 Kota Cirebon, tempat Sekolah Rakyat tersebut bernaung. Di sana, takdir mempertemukannya dengan Pak Indra, seorang petugas PKH. Melalui jalur rekomendasi dan pemenuhan berkas yang mudah, Maulana akhirnya resmi diterima.
Meski awalnya sang istri sempat menangis berat karena tak tega harus berpisah dan “mengasramakan” anak pertamanya, Tis berhasil meyakinkan bahwa ini adalah langkah terbaik.
Kehidupan di asrama Sekolah Rakyat ternyata sempat mengejutkan Maulana. Belum genap seminggu mengecap pendidikan, pada hari Jumat setelah salat, Maulana sempat “kabur” dan pulang ke rumah karena merasa tidak betah.
Namun, sebagai seorang ayah, Tis tidak lantas memanjakan anaknya. Dengan penuh ketegasan sekaligus kasih sayang, ia memberikan pilihan hidup yang menyentuh hati sang anak.
“Saya bilang ke dia, ‘Mau sekolah di mana lagi? Saudara tidak ada yang peduli. Uang jajan seminggu sudah Bapak siapkan. Kalau kamu keluar dari Sekolah Rakyat, ini Bapak ada uang 200 ribu, kamu jualan cilok aja sana buat modal, daripada tidak sekolah!,” cerita Tis.
Seketika itu juga, Maulana memilih untuk kembali ke asrama. Keputusan itu berbuah manis. Maulana kini tidak hanya betah, tetapi juga berhasil mengukir prestasi dengan lolos seleksi untuk mengikuti Jambore Nasional yang rencananya akan dibuka langsung oleh Bapak Prabowo Subianto pada bulan Agustus mendatang.
Di balik kelolosan Maulana menuju Jambore Nasional, ada cerita spiritual yang mengharukan. Maulana ternyata melakukan tirakat demi bisa lolos dalam ujian pramuka tersebut.
“Waktu tes itu, dia nazar, ‘Bapak, saya puasa 4 hari agar bisa masuk (Jambore)’. Alhamdulillah dia puasa, dan alhamdulillah dia lolos,” ucap Tis sambil menahan buncah bahagia.
Saat ditanya mengenai harapannya untuk Maulana di masa depan, pertahanan Tis runtuh. Air matanya menetes, mengalir di sela-sela kerutan wajahnya yang lelah mencari nafkah sebagai pemijat panggilan di daerah Sonean Tengah.
“Harapan saya untuk Maulana… dia harus lebih baik dari saya. Bisa mengangkat derajat keluarga. Biarkan bapaknya begini, tidak apa-apa saya terima. Tapi anak saya jangan seperti saya… susahnya hidup ini,” isak Tis sambil menyeka air mata.
Bagi Tis, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar gratis, melainkan tempat menempa karakter agar anaknya tidak kecanduan gawai dan bisa melihat dunia yang lebih luas. Begitu besarnya kepercayaan Tis pada sekolah ini, ia bahkan sudah berencana untuk menyekolahkan anak keduanya di tempat yang sama jika sudah cukup umur nanti.
Tis dan istrinya bertekad akan terus berjuang di luar, bekerja keras tanpa harus mencemaskan masa depan anak-anak mereka yang kini sudah berada di tangan yang tepat.
Dari bilik Sekolah Rakyat, sebuah mimpi besar sedang dirajut oleh seorang anak pemijat panggilan, membawa sejuta harapan bagi keluarganya.***











