BeritaBisnis

Dari ‘Jadi Pandu Ibuku’ ke Penguatan Industri BPR, Pesan Tegas OJK Cirebon

1106
×

Dari ‘Jadi Pandu Ibuku’ ke Penguatan Industri BPR, Pesan Tegas OJK Cirebon

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon menggelar Evaluasi Kinerja BPR se-Ciayumajakuning tahun 2025 di Kantor OJK Cirebon, Kamis (11/12/2025). 

Kegiatan ini mengusung tema “Strategi untuk Mendorong Perbaikan Kualitas Aset Produktif melalui Penyelesaian Kredit Bermasalah dengan Pelaksanaan Lelang Agunan”.

Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menyebut evaluasi tahunan ini menjadi momentum penting bagi seluruh BPR untuk meninjau kembali capaian kinerja sekaligus merumuskan langkah strategis menyongsong tahun 2026.

Agus membuka sambutan dengan menyinggung lirik lagu Indonesia Raya, khususnya frasa “jadi pandu ibuku”, yang baginya mengandung pesan tanggung jawab besar untuk menjaga dan menuntun bangsa. Nilai itu, kata Agus, selaras dengan tugas OJK serta amanah yang diemban direksi dan komisaris BPR dalam menjaga stabilitas keuangan dan kepercayaan publik.

Ia menekankan pentingnya moralitas, integritas, dan etika dalam menjalankan industri keuangan. Menurutnya, berbagai kasus kriminalitas dan korupsi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap bangsa, sehingga BPR harus menjadi garda terdepan menjaga kepercayaan masyarakat.

Dalam paparannya, Agus juga menyoroti perkembangan industri BPR di Ciayumajakuning yang mengalami penyusutan jumlah lembaga. Dari sekitar 60 BPR pada 2014–2015, tersisa 40 setelah merger pada 2016–2017, dan kini hanya 18 yang berada di bawah pengawasan OJK.

“Ini bukan kemunduran, melainkan strategi penguatan struktur industri agar lebih solid menghadapi persaingan perbankan yang semakin digital,” ujarnya.

Agus menyebut tantangan ke depan semakin kompleks, sehingga BPR harus adaptif dan mampu bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi. OJK, lanjutnya, akan terus menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan dengan pendekatan humanis dan partisipatif.

“Setiap bulan kami mengadakan pertemuan rutin sebagai wadah berbagi tantangan dan solusi. Kami ingin mendengar langsung dari industri agar langkah perbaikan dapat disusun bersama,” tutupnya.***