BeritaCirebon

Festival Kue Bulan Hidupkan Pecinan Cirebon, Jadi Agenda Wisata Tahunan

915
×

Festival Kue Bulan Hidupkan Pecinan Cirebon, Jadi Agenda Wisata Tahunan

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Kawasan Pecinan Kota Cirebon semakin semarak dengan hadirnya Festival Kue Bulan yang resmi dibuka pada Sabtu (26/9/2026). Festival ini tidak hanya menghadirkan kuliner khas Tionghoa, tetapi juga menampilkan beragam kesenian dan budaya sebagai bagian dari kekayaan akulturasi di Kota Cirebon.

Scroll Untuk Lanjut Baca
Scroll Untuk Lanjut Baca

Festival Kue Bulan digelar bersamaan dengan peresmian gapura kawasan Pecinan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menghidupkan kawasan Pecinan sekaligus memperkuat potensinya sebagai destinasi wisata budaya dan ekonomi kreatif di Kota Cirebon.

Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan, penyelenggaraan festival tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara Pemerintah Kota Cirebon, DPRD, komunitas, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan kawasan Pecinan.

Menurutnya, keberadaan Pecinan menjadi salah satu kekuatan yang dimiliki Kota Cirebon. Sebagai kota yang dihuni masyarakat dengan beragam latar belakang suku dan agama, kawasan tersebut mencerminkan keberagaman sekaligus akulturasi budaya yang telah berkembang di Cirebon.

“Kita kan di Cirebon itu beragam agama, beragam suku. Pecinan ini adalah kekuatan daya tarik dari Kota Cirebon. Ini merupakan identitas, semua suku bergabung di sini,” ujar Effendi Edo.

Ia menilai, Festival Kue Bulan dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Tionghoa yang menjadi bagian dari wajah Kota Cirebon.

“Biasanya kan kue bulan itu di Tegal, nah kita adakan di sini. Saya melakukan apa pun untuk Kota Cirebon lebih dikenal,” katanya.

Pemkot Cirebon, lanjut Effendi, juga membuka peluang untuk mengembangkan konektivitas destinasi wisata budaya dengan kawasan lainnya, termasuk Kampung Arab.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menciptakan rangkaian destinasi wisata yang saling terhubung dan menawarkan pengalaman keberagaman budaya kepada masyarakat maupun wisatawan.

“Ke depan kita akan melakukan kolaborasi antara Pecinan dengan kawasan Kampung Arab. Ini merupakan daya tarik tersendiri,” ujarnya.

Effendi berharap Festival Kue Bulan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pemkot Cirebon berencana mendorong kegiatan tersebut agar dapat digelar secara rutin setiap tahun.

Selain memperkuat identitas kawasan Pecinan, keberadaan festival dinilai berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat, terutama pelaku UMKM dan sektor usaha yang berada di sekitar kawasan kegiatan.

“Ya nanti kita dorong semuanya. Kita sama-sama karena ini membangkitkan perekonomian juga. Ini kan pasti akan tersebar dan menjadi daya tarik sendiri. Kita benahi semuanya,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon Hari Saputra Gani mengatakan, Festival Kue Bulan merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan potensi pariwisata Kota Cirebon.

Menurutnya, dengan luas wilayah Kota Cirebon yang relatif terbatas, pengembangan sektor pariwisata dan kegiatan ekonomi kreatif menjadi salah satu peluang untuk mendorong perputaran ekonomi daerah.

“Kita tahu Kota Cirebon luasnya hanya 39 kilometer persegi. Bagaimana hari ini bisa menaikkan perekonomian dan nantinya bisa berkesinambungan ke depannya antara DPRD Kota Cirebon dan stakeholder yang lainnya,” jelas Hari.

Ia berharap ke depan semakin banyak kegiatan yang digelar secara rutin di kawasan Pecinan. Dengan demikian, kawasan tersebut tidak hanya ramai ketika ada acara, tetapi dapat terus menjadi ruang aktivitas ekonomi dan wisata.

Hari juga mendorong agar pelaku UMKM di kawasan Pecinan secara bertahap mampu berkembang dan mandiri.

“Ini merupakan Cirebon, ada akulturasi budaya. Memang tahun ini kita undang, tapi ke depan saya harap bisa mandiri dan bisa bekerja sama dengan yang lain, serta berbicara destinasi wisata yang berkesinambungan,” tuturnya.

Festival Kue Bulan ini juga tidak terlepas dari inisiatif komunitas Tionghoa yang kemudian dikembangkan menjadi kegiatan bersama dengan melibatkan berbagai pihak.

Kegiatan Festival Mooncake atau Kue Bulan tersebut sekaligus dirangkai dengan peresmian gapura Pecinan. Ke depan, kegiatan ini diarahkan menjadi salah satu agenda tahunan yang memperkuat daya tarik wisata kawasan Pecinan Kota Cirebon.

Dengan rencana tersebut, kawasan Pecinan diharapkan memiliki agenda budaya yang rutin dan mampu menarik lebih banyak masyarakat maupun wisatawan.

Selain Festival Kue Bulan, terdapat pula agenda Cap Go Meh yang menjadi bagian dari kegiatan budaya masyarakat Tionghoa di Cirebon.

Dengan adanya dua agenda tersebut, kawasan Pecinan diharapkan semakin hidup, tidak hanya sebagai kawasan perdagangan dan permukiman, tetapi juga sebagai ruang wisata budaya yang memperlihatkan keberagaman dan akulturasi khas Kota Cirebon.

Pengembangan kawasan Pecinan pun diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan UMKM, kuliner, seni, serta sektor ekonomi kreatif lainnya sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.*** (Sakti)