Scroll untuk baca artikel
CirebonDialog Pemilu

Gagal dalam Kontestasi Pemilu, Caleg dan Timses Terapi di Padepokan Anti Galau

259
×

Gagal dalam Kontestasi Pemilu, Caleg dan Timses Terapi di Padepokan Anti Galau

Sebarkan artikel ini
Pasien terapi Ustaz Ujang Bustomi yang merupakanTimses salah satu Caleg di Cirebon, Senin (19/2/2024). Foto: Dialog/Sarrah

CIREBON– Sejumlah calon legislatif (Caleg) dan tim sukses (Timses) harus menelan pil pahit akibat kegagalan Pemilu hingga harus menjalani terapi psikis di Padepokan Bukit Cinta Anti Galau (BCAG) milik Ustaz Ujang Bustomi.

Terhitung pasca-penghitungan suara beberapa waktu lalu, Ustaz Ujang Bustomi menerima sejumlah pasien yang sebagian besar di antaranya merupakan Timses Caleg yang memiliki tekanan akibat kontestasi Pemilu 2024.

Pemilik Padepokan BCAG sekaligus terapis Ustaz Ujang Bustomi membenarkan adanya sejumlah pasien yang meminta terapi psikis kepadanya sejak masa penghitungan suara.

“Ya dari kemaren-kemaren pas penghitungan suara dan rata-rata timses yang diamanahi caleg untuk menyebarkan amplop,” kata Ujang, Senin (19/2/2024).

Sebagai terapis, Ustaz Ujang memberikan sejumlah terapi spiritual dan terapi air.

“Terapi spiritual, air, semangati aja lah tidak jauh dengan psikiater, tapi saya lebih menanamkan sistem ruqyah dan dzikir,” ujarnya.

Menurut Ustaz Ujang, yang diperlukan para pasien merupakan spirit untuk jiwa yang terguncang akibat kekalahan dalam kontestasi akbar tersebut.

“Yang dibutuhkan itu spirit untuk kejiwaannya, (karena) jiwanya itu tergoncang ketika jiwa tergoncang itu semuanya pasti akan tergoncang semua fisik dan lahir batinnya,” jelasnya.

Hal tersebut, kata Ujang, dikarenakan caleg maupun timses itu tidak siap kalah.

“Tidak siap kalah stress tekanan, padahal sebenarnya namanya juga kontestasi demokrasi, makanya kita harus bertarung handal, ketika kalah legowo, menang ga harus sombong,” jelasnya.

Adapun keluhan yang paling banyak dirasakan di antaranya depresi ringan dan menengah.

“Belum kategori depresi parah,” ujar Ujang.

“Kalau menengah dan ringan masih bisa diajak bicara tapi masih suka merenung dan sering tidak nyambung kalau ngomong,” terangnya.

Kalau sudah parah itu, kata Ujang dimungkinkan bisa mengalami gejala yang lebih parah yang bahkan bisa sampai kabur.

“Harus antisipasi kalau parah bahaya, kalau tidak antisipasi bisa lari-lari di jalan,” tuturnya.

Untuk saat ini, kata Ujang, dirinya sudah bisa mengatasi masalah ataupun keluhan yang dirasakan para pasien.

“Sudah bisa diatasi, karena memang tekanan stress depresi diberikan amanah untuk menyerahkan sejumlah amplop tapi perolehan suaranya justru tidak sesuai yang disebar amplopnya,” ungkapnya.

Maka dari itu, Ujang menasihati agar tidak perlu memikirkan masalah amplop yang telah disebar tersebut.

“Dan saya nasehatin untuk tidak diminta lagi karena cuma Rp. 20.000,” tuturnya.

Sementara itu, Caleg Dapil 3 Partai NasDem Kota Cirebon, Syaefuddin Zuhri, mengatakan dirinya merasakan kekecewaan mendalam akan hasil Pemilu 2024.

“Kebetulan betul pileg pilpres insting kami kan menang, apalagi sudah berjuang sejak 3,4 bulan lalu. Kami depresi karena tekanan ya, karena pemilihan tgl 14 februari saya juga kurang maksimal, jadi mereka (timses) terbebani apalagi mereka sudah berjuang dari 4 bulan bahkan 2022 begitu detik-detik terakhir hasilnya justru kurang memuaskan,” terangnya.

Untuk dapil 3 Argasunya Kalijaga Kota Cirebon Partai Nasdem, kata Zuhri, sudah ada incumbent Harry Gani, dan beruntung ada cukup suara untuk Harry Gani.

“Cuma memang di kota (timses) (saya) ada kelemahan, namanya juga nasib,” tuturnya.

Ia dan Timses mengaku sudah menghabiskan ratusan juta rupiah untuk kontestasi akbar tersebut.

“Sudah habis ratusan juta bahkan timses saya yang hari ini ikut terapi tertekan sudah jual motor uangnya sudah saya pinjam untuk kebutuhan (pemilu) ini,” tutup pria yang baru pertama kali mengikuti kontestasi Pemilu tersebut.*(sarrah)

TiketFest