Berita

SMPN 7 Kota Cirebon Tembus Tingkat Asia Tenggara Lewat Program Gizi dan Kemandirian Pangan

882
×

SMPN 7 Kota Cirebon Tembus Tingkat Asia Tenggara Lewat Program Gizi dan Kemandirian Pangan

Sebarkan artikel ini

CIREBON – SMP Negeri 7 Kota Cirebon menorehkan prestasi tingkat Asia Tenggara dalam hal Nutrition Goes To School (NGTS).

NGTS sendiri terdiri dari empat pilar yakni kantin sehat, edukasi gizi, kebun gizi, dan gizi kewirausahaan.

Kepala SMP Negeri 7 Kota Cirebon Euis Sulastri mengatakan, SMP Negeri 7 sendiri menjadi satu-satunya wakil di provinsi Jawa Barat untuk NGTS.

“Sebenarnya ada dua sekolah di Kota Cirebon yang masuk program NGTS tingkat mandiri, kebetulan SMP Negeri 7 Kota Cirebon langsung lanjut ke tingkat Asia Tenggara,” katanya, Jumat (21/8/2026).

Dirinya melanjutkan, sebelum melangkah ke tingkat Asia Tenggara, pihak sekolah terlebih dahulu merintis sejak tahun 2019 lalu.

Melajunya SMP Negeri 7 Kota Cirebon ke ajang NGTS di Asia Tenggara, didukung dengan edukasi kemandirian pangan yang dilakukan dilingkungan sekolah.

Terdapat beberapa metode pembelajaran gizi, yakni budidaya burung puyuh yang dapat menghasilkan telur puyuh, peternakan ayam petelur, dan juga budidaya ikan lele.

“Kompenen edukasi gizi sendiri sudah terintegrasi dengan mata pelajaran, jadi kita ajarkan materi pembelajaran IPA misal ada kandungan karbohidrat, protein, ya kita sekalian mengajarkan edukasi gizi seimbang di makanan,” paparnya.

Selain mata pelajaran, pihak sekolah memiliki kader kesehatan remaja yang bertujuan untuk mengontrol berat badan siswa, tinggi badan siswa, tensi darah dan lain sebagainya.

“Sistem kontrol gizi anak juga dilakukan dengan cara kartu menuju sehat (KMS) dan setiap anak berbeda tingkat gizinya,” tujuannya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Ade Cahyaningsih mengatakan, di SMP Negeri 7 Kota Cirebon sendiri tidak hanya melakukan edukasi dengan pelajaran saja, akan tetapi langsung mengimplementasikannya di sekolah.

“Yang paling sulit yang sudah dilakukan adalah implementasi, disini ada produk-produk protein dari mulai ikan, telur, ada juga sayur mayur, jadi disini langsung diberikan contoh kepada siswa,” katanya.

Selain budidaya dan kecukupan gizi, Ia mengaku bangga karena kebutuhan listrik di sekolah juga sudah disuplai menggunakan panel surya.

“Saya dapat informasi disini itu biaya listrik bisa ditekan sebesar 40 persen, dan apa yang sudah dicapai ini tidak hanya untuk sekolah tapi menjadi kebanggaan oleh provinsi Jawa Barat,” tutupnya.***(Sakti)