CIREBON – Beberapa hari kebelakang Cirebon muncul berita-berita yang dikaitkan dengan SARA dan juga toleransi antara sesama manusia.
Berita-berita tersebut diantaranya “razia” rumah masakan padang yang bukan dimiliki oleh orang tertentu, dan juga penolakan terhadap pembangunan gereja.
Salah seorang tokoh toleransi di Kota Cirebon, Prabu Diaz mengatakan, tingkat toleransi di Cirebon sendiri masih tinggi, kedua kasus tersebut tidak berstatus massal.
“Tapi kedua kasus tersebut ya menodai rasa kebersamaan dalam kebersamaan bhineka tunggal ika yang dijunjung tinggi di Indonesia,” katanya, Rabu (30/10/2024).
Dirinya melanjutkan, jangan sampai terulang kembali kasus yang membawa nama daerah dan ke khasan dan juga membawa agama.
“Karena kita semua satu bangsa, harus saling kompak dan juga saling menghargai satu sama lainnya jangan sampai pecah,” lanjutnya.
Pihaknya juga menyayangkan dengan adanya aksi sweeping masakan padang dan juga aksi penolakan terhadap rumah ibadah.
“Ya mungkin takut rasanya berbeda dengan masakan asli dari Padang, namun sebagai warga negara Indonesia seharusnya tidak seperti demikian, harusnya biarkan saja masyarakat yang menilai mana yang lebih nikmat,” jelasnya.
Ia juga menyayangkan penolakan tempat ibadah yang memiliki izin sementara selama 2 tahun.
“Kebebasan beribadah umat beragama itu dilindungi oleh undang-undang, yang saya tahu di situ aparat, RT, RW lurah dan camat tidak ada masalah, saya menyesalkan ini,” tuturnya.
Diaz berharap jangan sampai hal tersebut ditunggangi oleh oknum-oknum yang tidak paham akan toleransi.
“Saya juga berupaya akan mengundang pihak-pihak tertentu untuk diskusi tentang hal tersebut, yang kami takutkan gerakan ini terdapat provokator dan harus kita bedah,” paparnya.***(Sakti)











