BeritaCirebon

Setahun Berjalan, SR Kota Cirebon Ubah Kebiasaan dan Karakter Anak dari Keluarga Miskin

1367
×

Setahun Berjalan, SR Kota Cirebon Ubah Kebiasaan dan Karakter Anak dari Keluarga Miskin

Sebarkan artikel ini
kegitan belajar mengajar di Sekolah Rakyat Kota Cirebon. Foto : Hasan/Dialog

CIREBON – Setelah hampir satu tahun beroperasi, Sekolah Rakyat (SR) Kota Cirebon mulai menunjukkan hasil nyata. Bukan hanya dalam aspek akademik, perubahan paling mencolok justru terlihat pada karakter, perilaku, kedisiplinan, hingga kebiasaan hidup para siswa yang berasal dari keluarga miskin kategori desil 1 dan 2.

Kepala Sekolah Rakyat Kota Cirebon, Khaerunisa mengatakan, perubahan yang terjadi pada para siswa sangat terasa dibandingkan saat pertama kali mereka masuk sekolah berasrama tersebut.

“Kalau saya melihat siswanya, progresnya sangat besar. Terutama terkait adab, perilaku, dan kebiasaan. Mereka kan berasal dari keluarga desil 1 dan 2, lingkungan yang memang banyak berada dalam kondisi kemiskinan. Awalnya mereka tidak terbiasa dengan aturan yang baku,” ujar Khaerunisa.

Menurutnya, pada masa awal masuk asrama, banyak siswa yang merasa kaget dengan pola kehidupan yang diterapkan di Sekolah Rakyat.

“Mereka bertanya, kenapa harus bangun pagi, kenapa harus mandi dua kali sehari, kenapa harus salat, kenapa harus tidur cepat. Awalnya memang tidak mudah,” katanya.

Namun seiring waktu, para siswa mulai beradaptasi dan menjadikan disiplin sebagai kebiasaan sehari-hari. Mereka kini terbiasa bangun pagi, merapikan tempat tidur, melaksanakan salat subuh berjamaah, mencuci pakaian sendiri, hingga menjaga kebersihan lingkungan.

Khaerunisa mengaku sering berdialog langsung dengan para siswa untuk mengetahui perubahan yang mereka rasakan.

“Ada anak yang bilang sekarang tidak bisa tidur lewat jam 10 malam karena sudah terbiasa tidur lebih awal. Ada juga yang mengaku kalau meninggalkan salat sekarang merasa gelisah. Dulu katanya biasa saja, sekarang justru merasa ada yang kurang kalau belum salat,” tuturnya.

Perubahan lain yang terlihat adalah meningkatnya kesadaran siswa terhadap kebersihan dan kerapian.

Khaerunisa mengenang kondisi awal ketika para siswa baru masuk asrama. Saat itu, sampah masih berserakan dan pakaian kotor maupun bersih bercampur tanpa aturan yang jelas.

“Dulu sampah ada di mana-mana. Cucian juga berantakan. Kadang ditanya baju ini punya siapa, mereka tidak tahu. Sekarang sudah jauh lebih rapi. Mereka sudah tahu jadwal mencuci dan menjemur pakaian,” ungkapnya.

Di bidang akademik, pihak sekolah juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Saat awal pembelajaran, ditemukan beberapa siswa tingkat SMP yang bahkan belum mampu membaca.

“Kami sempat kaget. Ada anak kelas 7 yang belum bisa membaca. Awalnya mereka malu dan belajar sembunyi-sembunyi,” kata Khaerunisa.

Kondisi tersebut mendorong sekolah membuat program khusus yang disebut “darurat membaca”. Program ini melibatkan guru wali, wali asrama, dan tenaga pendidik lainnya untuk memberikan pendampingan intensif.

Setiap guru bahkan ditugaskan mendampingi satu hingga tiga siswa yang membutuhkan perhatian khusus dalam kemampuan membaca.

“Alhamdulillah sekarang perkembangannya sangat baik. Tinggal memperkuat beberapa pengucapan huruf seperti ‘ng’ dan ‘ny’. Kemajuannya sudah jauh dibandingkan saat pertama masuk,” ujarnya.

Selain mendidik siswa, tantangan besar lainnya adalah membangun sistem pendidikan berasrama yang benar-benar baru.

Menurut Khaerunisa, seluruh tenaga pendidik harus menyusun pola pengasuhan, aturan, hingga standar operasional prosedur (SOP) yang sesuai dengan karakter siswa.

“Kami membangun semuanya dari nol. Anak-anak ini punya latar belakang yang beragam dan banyak yang masih kesulitan mengelola emosi. Jadi kami terus belajar mencari pendekatan terbaik. Masih banyak proses trial and error,” katanya.

Saat pertama dibuka, Sekolah Rakyat Kota Cirebon menerima sekitar 100 siswa. Namun saat ini jumlah siswa yang bertahan sebanyak 72 orang.

Sebagian siswa memilih kembali ke sekolah reguler karena belum siap tinggal di asrama, sulit berpisah dengan orang tua, atau belum bisa lepas dari penggunaan telepon genggam.

“Kebanyakan karena masih belum siap berpisah dengan keluarga atau masih sangat bergantung pada HP. Orang tua juga ada yang khawatir sehingga akhirnya memilih membawa anaknya pulang,” jelas Khaerunisa.

Meski demikian, ia memastikan mayoritas siswa yang bertahan kini merasa nyaman tinggal dan belajar di Sekolah Rakyat.

“Saya pernah tanya, kalau Sekolah Rakyat dinilai dari skala 1 sampai 10 berapa? Mereka kompak menjawab 10. Artinya mereka merasa senang dan nyaman di sini,” ujarnya.

Siapkan Generasi Pemutus Rantai Kemiskinan

Saat ini Sekolah Rakyat Kota Cirebon memiliki berbagai kegiatan pengembangan diri seperti pramuka, futsal, taekwondo, hingga pembelajaran baca tulis Al-Qur’an. Bahkan dua siswa telah dipersiapkan mengikuti Jambore Nasional.

Khaerunisa menegaskan, tujuan utama Sekolah Rakyat bukan sekadar memberikan pendidikan gratis, melainkan menjadi instrumen untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

“Anaknya kami didik di Sekolah Rakyat, sementara orang tuanya juga mendapat program pemberdayaan dan bantuan usaha. Jadi anak punya masa depan dan orang tua bisa lebih mandiri secara ekonomi,” katanya.

Perubahan positif tersebut juga mulai dirasakan keluarga siswa. Salah satu nenek siswa bahkan datang langsung ke sekolah untuk menyampaikan rasa syukurnya.

“Beliau bilang, sejak cucunya sekolah di SR, sekarang sudah tidak berbicara kasar lagi dan tidak membentak orang tua. Bagi kami, itu menjadi kebahagiaan tersendiri,” tutur Khaerunisa.

Ia berharap Sekolah Rakyat terus mendapat dukungan dari pemerintah dan masyarakat agar semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu yang memiliki kesempatan memperbaiki masa depan mereka.

“Harapan kami, anak-anak benar-benar menjadikan sekolah ini sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan mereka, dengan pendidikan, mereka bisa memiliki tujuan hidup yang lebih baik dan keluar dari lingkaran kemiskinan,” pungkasnya.***