CIREBON – Di balik dinding asrama sederhana di Kota Cirebon, tersimpan kisah-kisah perjuangan yang menginspirasi. Bukan sekadar tempat belajar, Sekolah Rakyat (SR) Kota Cirebon menjadi ruang harapan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mengubah masa depan mereka melalui pendidikan.
Di sekolah berkonsep asrama dengan pembinaan semi-militer ini, para siswa tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan, tetapi juga ditempa menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan berkarakter.
Dari tempat inilah lahir cerita-cerita penuh semangat, seperti yang dialami Najwa dan Muhammad Atho’illah atau biasa disapa Ato, dua siswa kelas 7 yang kini mulai berani menatap masa depan dengan optimisme.
Bagi sebagian remaja, bangun pagi mungkin menjadi tantangan tersendiri. Namun bagi Najwa, siswi Sekolah Rakyat Kota Cirebon, rutinitas dimulai bahkan sebelum matahari terbit.
Setiap hari, ia sudah bangun pada pukul 04.00 WIB. Setelah melaksanakan salat Subuh, para siswa langsung merapikan kamar asrama sebelum mengikuti senam pagi bersama. Usai sarapan, kegiatan belajar mengajar pun dimulai hingga sore hari.
“Bangun jam empat pagi, salat Subuh, lalu beres-beres asrama. Setelah itu senam pagi, makan, baru mulai sekolah,” tutur Najwa dengan senyum semangat, Selasa (9/6/2026).
Meski aktivitasnya padat, Najwa mengaku menikmati setiap proses yang dijalani. Fasilitas yang memadai, lingkungan yang nyaman, serta kehadiran teman-teman baru membuatnya betah tinggal di asrama.
Tidak hanya fokus pada akademik, Najwa juga aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti OSIS, Pramuka, Rohani Islam (Rohis), hingga kegiatan seni. Beragam aktivitas tersebut membantunya mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan kepercayaan diri.
Di balik kesibukannya, tersimpan cita-cita besar yang terus ia perjuangkan. Najwa ingin menjadi seorang dokter dan kelak mampu mengangkat derajat keluarganya.
Perjalanan Ato di Sekolah Rakyat Kota Cirebon juga menyimpan kisah yang tak kalah mengharukan.
Sebelum bergabung dengan sekolah tersebut, Ato mengaku bukan anak yang rajin belajar. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ia sering kali malas berangkat sekolah bahkan beberapa kali bolos.
Namun keputusan orang tuanya untuk mendaftarkan dirinya ke Sekolah Rakyat menjadi titik balik yang mengubah kehidupannya.
“Dulu waktu SD saya sering malas dan jarang masuk sekolah. Setelah masuk sini, saya diajarkan disiplin dan rajin. Kami juga dilatih untuk percaya diri dan berani berbicara di depan umum,” ungkap Ato.
Awalnya, berbagai aturan yang diterapkan, termasuk latihan baris-berbaris dan pembinaan kedisiplinan ala semi-militer, terasa berat baginya. Namun seiring waktu, ia mulai memahami bahwa semua proses tersebut bertujuan membentuk karakter yang lebih baik.
Kini, Ato tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan aktif. Saat memiliki waktu luang, ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan membaca buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan alam yang menjadi favoritnya.
Di balik semangat belajar yang mereka tunjukkan, Najwa dan Ato berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana.
Ayah Najwa saat ini belum memiliki pekerjaan tetap, sementara sang ibu membantu perekonomian keluarga melalui usaha warung kecil. Kondisi serupa juga dialami Ato. Ayahnya bekerja sebagai pedagang yang merantau ke luar kota, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang mengurus keluarga.
Namun keterbatasan ekonomi tidak membuat mereka menyerah. Justru keadaan tersebut menjadi motivasi terbesar untuk terus belajar dan mengejar cita-cita.
Najwa memiliki harapan sederhana namun penuh makna.
“Harapan saya ke depan ingin sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tua,” ujarnya.
Sementara itu, Ato memiliki pandangan yang jauh melampaui usianya. Ia meyakini bahwa pendidikan merupakan kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan yang masih dialami banyak keluarga.
“Semoga Sekolah Rakyat bisa terus berkembang dan bertahan. Supaya anak-anak yang tidak mampu atau yang sempat putus sekolah bisa kembali mendapatkan pendidikan dan memutus rantai kemiskinan,” katanya penuh keyakinan.
Bagi Ato, bantuan sosial memang penting untuk membantu kebutuhan jangka pendek masyarakat. Namun menurutnya, pendidikan memiliki dampak yang jauh lebih besar dan berkelanjutan.
“Pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan. Bantuan seperti sembako atau barang mungkin bisa habis. Tapi ilmu akan tetap ada dan berkembang dalam pikiran kita sampai akhir hayat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana pendidikan mampu membuka peluang baru, menciptakan kemandirian, serta memberikan harapan bagi generasi muda untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.
Kisah Najwa dan Ato menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Dengan dukungan para guru, pembina, dan sistem pendidikan yang menanamkan disiplin serta karakter kuat, Sekolah Rakyat Kota Cirebon telah menjadi rumah bagi lahirnya generasi-generasi tangguh.
Di tempat inilah anak-anak belajar bahwa masa depan tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarga, melainkan oleh kemauan untuk terus berjuang dan belajar.
Dari balik asrama sederhana tersebut, tumbuh harapan-harapan besar. Harapan untuk menjadi dokter, guru, pemimpin, hingga generasi penerus bangsa yang mampu membawa perubahan bagi keluarga, masyarakat, dan Indonesia di masa depan.***











