CIREBON – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SMP Negeri 1 Kota Cirebon. Dua siswa berbakat, Raka Putra Alawi dan Ahmad Rifai Windy Tresno Saputra, berhasil meraih Juara Pertama Lomba Pantomim Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026 tingkat Kota Cirebon.
Keberhasilan tersebut mengantarkan keduanya menjadi wakil Kota Cirebon untuk melanjutkan perjuangan ke jenjang berikutnya. Menariknya, Raka yang masih duduk di bangku kelas VII mampu mengungguli peserta lain yang sebagian besar berasal dari kelas VIII, bahkan bersaing dengan kakak kelasnya sendiri.
Raka mengaku tidak menyangka bisa keluar sebagai juara dalam ajang seni bergengsi tersebut.
“Awalnya kaget, karena saya masih kelas 7. Lawan-lawan saya kebanyakan kelas 8 dan menurut saya banyak yang lebih baik,” ujarnya, Senin (8/6/2026).
Kecintaan Raka terhadap dunia pantomim ternyata sudah tumbuh sejak dirinya duduk di bangku kelas V sekolah dasar. Ketertarikan itu muncul setelah diajak seorang teman untuk mengenal seni pertunjukan tanpa dialog tersebut.
Sejak saat itu, minatnya terus berkembang hingga akhirnya aktif berlatih dan mengikuti berbagai perlombaan saat memasuki jenjang SMP.
Untuk menghadapi FLS3N, Raka menjalani latihan yang cukup intensif. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengasah kemampuan teknik dan ekspresi.
“Latihan setiap hari dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore. Setelah ini kami akan bersiap untuk seleksi tingkat berikutnya yang rencananya berlangsung bulan Juli,” katanya.
Dalam penampilannya di FLS3N, Raka dan Ahmad mengangkat tema keindahan lautan. Mereka memerankan kisah dua orang yang tengah berlayar menggunakan perahu sebelum diterjang badai besar di tengah laut.
Di balik gerakan-gerakan pantomim yang tampak sederhana, terdapat tantangan fisik yang tidak ringan. Menurut Raka, kemampuan menjaga keseimbangan tubuh dan melakukan gerakan lambat atau slow motion menjadi salah satu bagian tersulit dalam pantomim.
“Yang paling berat itu fisiknya. Gerakan pantomim banyak yang membutuhkan kekuatan untuk menopang tubuh dan menahan posisi tertentu dalam waktu yang cukup lama,” jelasnya.
Kesibukan latihan bahkan membuatnya beberapa kali tertinggal pelajaran di sekolah. Namun, ia memiliki cara tersendiri agar tetap bisa mengikuti materi pembelajaran.
“Biasanya saya pinjam catatan teman sekelas untuk mengejar pelajaran yang tertinggal setelah latihan,” ujarnya.
Sementara itu, Ahmad Rifai Windy Tresno Saputra mengungkapkan bahwa tantangan lain yang harus mereka hadapi adalah membangun kekompakan sebagai pasangan pantomim.
Menurutnya, menyatukan gerakan, ritme, dan imajinasi membutuhkan proses yang tidak singkat.
“Awalnya memang susah untuk menyatukan kekompakan satu sama lain, tapi karena sering latihan bersama akhirnya semakin kompak,” katanya.
Ahmad sendiri mulai mengenal pantomim sejak kelas III SD. Ketertarikannya muncul setelah melihat berbagai pertunjukan pantomim di media sosial.
“Saya suka karena unik. Tidak banyak orang yang menekuni pantomim, jadi terasa berbeda dan menarik,” ungkapnya.
Pelatih Pantomim SMPN 1 Kota Cirebon, Ade Fatchtullah, mengatakan proses persiapan menuju FLS3N membutuhkan latihan yang disiplin dan terstruktur.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah menerjemahkan petunjuk teknis lomba menjadi sebuah konsep pertunjukan yang menarik sekaligus kompetitif.
“Kami harus mencari tema yang tepat, menentukan alur cerita, memilih gerakan yang sesuai, dan membaca kekuatan lawan. Itu menjadi bagian tersulit dalam persiapan lomba,” ujar Ade.
Untuk mematangkan penampilan, para siswa menjalani latihan semi karantina mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
Pada sesi pagi, latihan difokuskan pada peningkatan daya tahan tubuh, kelenturan, dan elastisitas otot. Sementara setelah siang hari, latihan diarahkan pada penguasaan adegan dan penghayatan karakter.
“Pagi biasanya endurance dan pelemasan tubuh. Setelah Dzuhur baru masuk ke latihan adegan-adegan pantomim,” jelasnya.
Ade menambahkan, membangun kekompakan antarpemain menjadi aspek yang sangat penting dalam lomba pantomim berpasangan. Karena itu, ia membiasakan kedua siswa tersebut untuk selalu melakukan berbagai aktivitas bersama.
Salah satu adegan yang membutuhkan sinkronisasi tinggi adalah saat menggambarkan dua orang sedang mendayung perahu di tengah ombak.
“Gerakan harus sama persis dan membutuhkan imajinasi yang kuat. Kalau tidak kompak, penonton akan langsung melihat perbedaannya,” tuturnya.
Tak hanya itu, Ade juga menerapkan metode unik dalam pembinaan. Saat berada di ruang seni, para siswa diwajibkan berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh layaknya seorang pantomim.
“Mau minum atau makan pun harus menggunakan gerakan pantomim. Dengan cara itu, tubuh mereka terbiasa bergerak dan kelenturannya semakin terlatih,” pungkasnya.
Keberhasilan Raka dan Ahmad menjadi Juara 1 Pantomim FLS3N tingkat Kota Cirebon diharapkan menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk terus mengembangkan bakat di bidang seni. Kini, keduanya bersiap membawa nama Kota Cirebon ke tingkat yang lebih tinggi dengan target meraih prestasi yang lebih gemilang.***(Sakti)











