BeritaCirebon

Di Reses, Endah Ingatkan Orang Tua : Bahaya HP Mengintai Anak

683
×

Di Reses, Endah Ingatkan Orang Tua : Bahaya HP Mengintai Anak

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Penggunaan telepon pintar atau HP di kalangan anak-anak semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di balik manfaatnya untuk belajar dan mencari informasi, penggunaan gawai tanpa pendampingan juga menyimpan berbagai risiko yang perlu menjadi perhatian orang tua.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian Sekretaris Komisi III DPRD Kota Cirebon, R. Endah Arisyanasakanti, saat menyerap aspirasi sekaligus memberikan edukasi kepada para orang tua di SDN Kayuwalang, Rabu (19/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Endah bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) serta Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (DKIS) mengajak orang tua lebih aktif mengawasi aktivitas anak di dunia digital.

Menurut Endah, pengawasan anak tidak cukup hanya mengandalkan pihak sekolah. Orang tua harus mengetahui bagaimana anak menggunakan HP, mulai dari konten yang diakses, lama penggunaan hingga interaksi dengan orang lain melalui internet.

“Kita tidak bosan untuk mengedukasi para orang tua supaya memahami apa bahaya dari HP ini jika dimainkan oleh anak jika tidak dipantau dan diawasi,” ungkap Endah.

Serap Aspirasi, Endah Ingatkan Risiko Dunia Digital

Endah menilai, persoalan gawai pada anak kini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan. Risiko sosial hingga keamanan juga perlu menjadi perhatian serius.

Menurutnya, interaksi anak dengan orang yang dikenal melalui internet harus mendapat pengawasan. Sebab, ruang digital juga dapat menjadi pintu masuk berbagai persoalan apabila anak belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai keamanan digital.

“Banyak orang saling kenal dari HP berujung penipuan, ada yang sampai terjadi kekerasan, ada yang diculik dan lain-lain. Sepanjang 2026, data di DP3APPKB sudah ada 25 kasus kekerasan. Laporan saat kita rapat di Komisi III, beberapa penyebabnya tidak jauh dari HP,” ujarnya.

Selain persoalan keamanan, Endah juga mengingatkan dampak penggunaan gawai secara berlebihan terhadap kondisi emosional dan mental anak.

“Dari kesehatan juga berdampak, banyak anak-anak yang mengalami gangguan emosional karena HP, banyak juga yang sampai mentalnya terganggu,” katanya.

Meski mengingatkan berbagai risiko, Endah menegaskan bahwa HP bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif.

Menurutnya, teknologi justru dapat memberikan banyak manfaat bagi anak, terutama untuk menunjang pembelajaran, memperoleh informasi dan memperluas wawasan.

Karena itu, orang tua tidak perlu menerapkan larangan total. Yang lebih penting adalah membuat batasan yang jelas dan memastikan anak mendapatkan pendampingan ketika menggunakan perangkat digital.

“Boleh main HP, tapi dengan batasan-batasan untuk menghindari banyaknya kejadian dan dampak negatif dari gawai. Memang ada sisi positif, banyak informasi yang diterima anak,” jelasnya.

Endah kemudian mengajak para orang tua menerapkan prinsip 3M: mendampingi, mengawasi dan melindungi.

Ketiga langkah tersebut dinilai penting agar orang tua tidak sekadar memberikan HP kepada anak, tetapi juga memahami aktivitas dan lingkungan digital yang mereka masuki.

“Kami berharap para orang tua lebih mengawasi lagi anak-anaknya. Orang tua harus melakukan 3M, mendampingi, mengawasi dan melindungi,” tegas Endah.

Pesan tersebut mendapat dukungan dari Lurah Karyamulya, Andre Ginanjar Ferdhiansyah Pratama. Ia menilai pemahaman orang tua terhadap karakter dan kebutuhan anak menjadi kunci dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Menurut Andre, pengawasan tidak bisa dilakukan hanya dengan melarang anak menggunakan HP. Orang tua perlu memahami kebiasaan, karakter dan lingkungan pergaulan anak agar dapat memberikan pendampingan yang tepat.

“Ini memang hal yang penting. Kita para orang tua memang harus benar-benar memahami karakter anak. Jadi gerakan Bu Endah ini harus kita dukung bersama,” kata Andre.

Ia berharap edukasi mengenai penggunaan teknologi yang sehat dapat dilakukan secara berkelanjutan. Atas hal tersebut, orang tua tidak tertinggal dalam memahami perkembangan dunia digital sekaligus mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak.***