Berita

Korban Dugaan Keracunan MBG di Cirebon Bertambah Jadi 287 Orang, 210 Pasien Dirawat di Rumah Sakit

890
×

Korban Dugaan Keracunan MBG di Cirebon Bertambah Jadi 287 Orang, 210 Pasien Dirawat di Rumah Sakit

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Jumlah korban dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon terus bertambah. 

Scroll Untuk Lanjut Baca
Scroll Untuk Lanjut Baca

Hingga Rabu (21/10/2026) pukul 13.00 WIB, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon mencatat sebanyak 287 orang mengalami keluhan kesehatan setelah diduga mengonsumsi menu MBG yang didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga.

Korban terdiri dari murid taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD), guru, petugas SPPG, serta sejumlah orang dewasa lainnya. Dari total tersebut, sebanyak 210 pasien masih menjalani rawat inap di delapan rumah sakit di Kota Cirebon, sementara 77 orang lainnya menjalani rawat jalan.

Kepala Dinkes Kota Cirebon, Siti Maria Listiawati, mengatakan angka tersebut merupakan hasil pendataan terbaru yang dihimpun jajarannya hingga Rabu siang.

“Dari 287 korban itu terdapat 210 pasien masih menjalani rawat inap di delapan rumah sakit se-Kota Cirebon, sedangkan 77 pasien lainnya menjalani rawat jalan,” ujar Siti Maria Listiawati saat ditemui di Kantor Dinkes Kota Cirebon, Jalan Kesambi, Rabu (21/10/2026).

Ia menjelaskan, jumlah korban terus meningkat dibandingkan pendataan pada Rabu pagi yang mencatat sekitar 270 orang. Dalam perkembangan berikutnya, terdapat tambahan 17 pasien yang masuk ke rumah sakit sehingga total korban mencapai 287 orang.

Sebanyak 210 pasien yang menjalani rawat inap tersebar di delapan rumah sakit, yakni RS Ciremai, RSD Gunung Jati Kota Cirebon, RS Siloam Putera Bahagia, RS Medimas, RS Cahaya Bunda, RS Panti Abdi Dharma, RS Pelabuhan, dan RS Sumber Kasih.

RS Ciremai menjadi rumah sakit dengan jumlah pasien terbanyak, yakni mencapai 102 orang. Sementara itu, 108 pasien lainnya yang menjalani rawat inap tersebar di tujuh rumah sakit tersebut.

Siti menyebutkan, dari total 10 rumah sakit yang ada di Kota Cirebon, delapan rumah sakit telah menerima dan menangani pasien yang diduga mengalami keracunan MBG.

Adapun dua rumah sakit yang hingga Rabu siang belum menerima laporan pasien terkait kejadian tersebut adalah RSU Muhammadiyah Kota Cirebon dan RS Budi Asta.

Menurutnya, penanganan pasien dilakukan di ruang rawat inap biasa. Tidak ada pasien yang saat ini menjalani perawatan di ruang intensive care unit (ICU).

Secara umum, kondisi para pasien dilaporkan relatif stabil meskipun mengalami sejumlah gejala, seperti mual, muntah, diare, dan keluhan pencernaan lainnya.

Namun, Dinkes mencatat satu pasien balita berusia empat tahun sempat mengalami penurunan kesadaran. Pasien tersebut kemudian mendapatkan penanganan di ruang pediatric intensive care unit (PICU).

“Setelah kita tahu itu, kita masukkan ke ruang PICU. Alhamdulillah, pasien tersebut sudah sadar, dan sampai saat ini tidak ada kondisi kritis lagi,” jelas Siti.

Dinkes Kota Cirebon juga menyoroti menu MBG yang dikonsumsi para korban, terutama sup telur puyuh yang diduga menjadi salah satu sumber paparan.

Berdasarkan informasi yang diterima, sejumlah korban mengeluhkan kuah sup telur puyuh yang memiliki rasa asam. Bahkan, seorang guru yang hanya mencicipi kuahnya tanpa memakan telur puyuh juga mengalami keluhan serupa.

“Ada juga guru yang mencicipi kuahnya saja, tidak memakan telurnya, dan sama keracunan. Memang guru tersebut mencoba terlebih dahulu sebelum diberikan kepada anak,” ungkapnya.

Siti menjelaskan, secara kombinasi, menu MBG yang disajikan saat itu dinilai cukup menarik bagi anak-anak. Namun, aspek pengolahan dan keamanan pangan menjadi perhatian yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

Dinkes belum dapat memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Pemeriksaan masih diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat persoalan dalam proses memasak, waktu pematangan, pencampuran bahan makanan, hingga cara penyimpanan dan pengemasan setelah makanan selesai dimasak.

“Yang kami khawatirkan adalah apakah pengolahan makanan sudah sesuai dengan SOP. Mulai dari jam memasak, kapan makanan matang, bagaimana telur dimasukkan ke dalam kuah, hingga apakah makanan ditutup saat masih panas. Kami masih belum bisa menyimpulkan karena semuanya masih dalam proses,” katanya.

Untuk mengungkap penyebab dugaan keracunan MBG tersebut, Dinkes Kota Cirebon telah mengambil sejumlah sampel untuk diperiksa di laboratorium.

Sampel yang dikumpulkan meliputi makanan yang diduga dikonsumsi para korban, muntahan pasien, serta sampel tinja dari pasien yang mengalami diare, termasuk yang dirawat di RS Ciremai.

Seluruh sampel kemudian disimpan dalam kondisi dingin sesuai ketentuan sebelum dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Siti mengatakan, hasil pemeriksaan laboratorium untuk sampel terkait dugaan keracunan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat sekitar 14 hari.

Meski demikian, hasil pemeriksaan awal terhadap pasien yang dirawat pada malam sebelumnya telah menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel darah putih atau leukositosis.

“Ada peningkatan sel leukosit atau leukositosis. Ini mengindikasikan adanya infeksi dari bakteri,” jelasnya.

Meski ditemukan indikasi tersebut, penyebab pasti keluhan yang dialami para korban belum dapat dipastikan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan awal. Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan sampel untuk mengetahui kemungkinan sumber kontaminasi.

Dinkes Kota Cirebon menyebutkan, mayoritas korban merupakan anak-anak usia sekolah yang menerima menu MBG dari SPPG Kalijaga.

Menu tersebut diketahui didistribusikan ke 28 institusi pendidikan dan penerima manfaat lainnya di wilayah Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Banyaknya institusi penerima manfaat membuat penanganan dan pendataan korban menjadi perhatian penting, terutama untuk memastikan seluruh orang yang mengalami keluhan kesehatan mendapatkan pemeriksaan dan perawatan sesuai kebutuhan.

Dengan jumlah korban yang telah mencapai 287 orang, Dinkes masih melakukan pendataan sekaligus menelusuri penyebab kejadian melalui pemeriksaan epidemiologis dan laboratorium.

Hasil pemeriksaan sampel diharapkan dapat membantu memastikan penyebab dugaan keracunan, termasuk kemungkinan kaitannya dengan menu sup telur puyuh maupun proses pengolahan dan distribusi makanan MBG.

Hingga Rabu siang, fokus penanganan masih diarahkan pada pemantauan kondisi para pasien, pendataan korban, serta pemeriksaan sampel untuk memastikan penyebab kejadian secara ilmiah.*** (Sakti)