CIREBON – Dinas Kesehatan Kota Cirebon mengkonfirmasi setidaknya terdapat total 44 orang korban keracunan di Puskesmas Cangkol Kota Cirebon.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon dr. Siti Maria mengatakan, kasus keracunan tersebut dimulai dari adanya program pengabdian masyarakat oleh mahasiswa salah satu institut kesehatan kepada kader PKK.
“Awalnya ada program sosialisasi sanitasi total berbasis masyarakat yang dilakukan oleh kampus tersebut yang diselenggarakan selama dua hari, yaitu Jumat dan Sabtu lalu,” katanya, Senin (28/10/2024) sore.
Dirinya melanjutkan, snack yang dibagikan sendiri merupakan pesanan dari pihak kampus sendiri yang melakukan pemesanan terhadap salah satu toko kue.
“Snack yang dipesankan oleh Itekes Mahardika sendiri sebanyak 62 kotak pada hari pertama, pada tanggal 23 sendiri kampus itu sudah melakukan kontak terhadap toko untuk memenuhi kegiatan tersebut,” lanjutnya.
Ia menuturkan, pada pagi hari tanggal 25 Oktober pihak kampus sudah mengambil snack tersebut dan dibawa ke tempat yang bersangkutan.
“Sempat dibawa ke kampus terlebih dahulu lalu dibagikan di Puskesmas Cangkol, kemudian dari pihak kampus memulai kegiatan sosialisasinya dengan peserta kader dan karyawan puskesmas sebanyak 56 orang,” tuturnya.
Maria menjelaskan, setelah selesai acara pada hari terakhir dengan jumlah peserta 54 orang pada hari kedua, masyarakat mulai terdampak keracunan.
“Langsung kita lakukan penyelidikan epidemiologi dan kita menemukan 44 korban keracunan, 10 orangnya sudah dalam kondisi baik, dan 34 orang masih dirawat dibeberapa rumah sakit,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, korban sendiri berasal dari karyawan rumah sakit, kader maupun keluarga kader sendiri.
“Sampai saat ini sampel dari snack tersebut sudah kita kirimkan ke laboratorium kesehatan daerah Provinsi Jawa Barat, sesuai dengan petunjuk yang ada,” ungkapnya.
Dari informasi yang didapat snack tersebut berisikan ketan wijen, bolu kukus, dan lainnya.
Ia mengaku, Dinkes juga sudah berkoordinasi dengan ketua kampus tersebut terkait tanggung jawab.
“Beliau kaget karena baru kali ini mendapatkan kasus keracunan makanan, karena selama 7 tahun ke belakang beliau selalu memesan dari pihak toko kue itu,” katanya.
Dirinya meminta, pihak kampus untuk mengunjungi pihak-pihak yang terdampak keracunan makanan tersebut.
“Karena memang tidak ada satupun yang menginginkan kejadian keracunan tersebut terjadi, ya paling tidak saya minta untuk mengunjungi korban keracunan,” lanjutnya.
Ia menuturkan, kepada para korban sendiri pihak Puskesmas Cangkol sendiri masih melakukan pemantauan kondisi kesehatannya.
“Masih ada pemantauan dari Dinas maupun puskesmas, tapi kondisi para korban keracunan sendiri sudah ada yang membaik,” tuturnya.
Selain melakukan pemantauan terhadap korban yang masih berada di rumah sakit, pihaknya juga melakukan pemantauan para korban yang dirawat di rumah masing-masing.
“Untuk para korban yang dirawat dirumah sendiri kita terus lakukan pemantauan, alhamdulilah sudah membaik, obat-obatan juga kita sediakan,” jelasnya.
Untuk biaya pengobatan sendiri, Maria mengungkapkan, para korban masih tercover oleh BPJS kesehatan.
“Masih tercover oleh jaminan kesehatan bagi yang dirawat dirumah sakit, karena bukan termasuk kejadian luar biasa untuk yang di rumah kita juga cover dan masih melakukan pemantauan,” tutupnya.***(Sakti)











