BeritaCirebon

Warga Jagasatru Minta Program Maghrib Mengaji Kembali Digelar, Imam Yahya Carikan Solusi

766
×

Warga Jagasatru Minta Program Maghrib Mengaji Kembali Digelar, Imam Yahya Carikan Solusi

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Kerinduan terhadap aktivitas mengaji kembali dirasakan warga RW 08 Jagasatru Timur, Kelurahan Jagasatru, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon. Warga berharap program Maghrib Mengaji yang selama belasan tahun menjadi tradisi di lingkungan mereka dapat kembali berjalan.

Program tersebut, khususnya di RT 02 RW 08 Jagasatru Timur, diketahui sudah hampir satu tahun terhenti. Kondisi itu terjadi setelah tenaga pengajar yang selama ini rutin membimbing anak-anak mengaji pindah dari lingkungan tersebut.

Sekretaris RW 08 Jagasatru Timur, Andi Suandi, mengatakan terhentinya kegiatan Maghrib Mengaji cukup dirasakan oleh masyarakat, terutama para orang tua yang ingin anak-anak mereka tetap memiliki aktivitas positif selepas Maghrib.

“Sudah mau satu tahun berhenti. Warga kami minta agar ada solusi, supaya anak-anak bisa mengaji lagi,” ujar Andi.

Menurut Andi, Maghrib Mengaji bukanlah kegiatan baru bagi masyarakat setempat. Program tersebut telah berlangsung sekitar 15 tahun dan menjadi bagian dari kebiasaan warga di kampung tersebut.

Selama bertahun-tahun, selepas Salat Maghrib anak-anak terbiasa berkumpul di masjid untuk belajar membaca Al-Qur’an hingga memasuki waktu Isya.

Kebiasaan tersebut bahkan telah menjadi budaya positif di lingkungan Jagasatru Timur. Namun, kegiatan akhirnya berhenti karena tidak adanya tenaga pengajar yang dapat melanjutkan pendampingan.

“Jadi kami minta ada pengajar lagi, supaya anak-anak bisa lanjut ngaji,” kata Andi.

Keinginan warga tersebut mendapat respons positif dari Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Cirebon, Imam Yahya. Aspirasi itu disampaikan langsung kepada Imam saat dirinya bersilaturahmi dengan masyarakat RW 08 Jagasatru Timur, Selasa (18/8).

Imam yang juga merupakan warga di wilayah tersebut mengaku mengetahui bahwa kegiatan Maghrib Mengaji sudah cukup lama tidak berjalan.

“Iya, ini memang keinginan warga yang harus direspons positif. Ini aspirasi yang positif,” ungkap Imam.

Imam memastikan akan menindaklanjuti aspirasi tersebut dengan berkoordinasi bersama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setempat. Langkah tersebut dilakukan untuk mencari solusi agar kegiatan Maghrib Mengaji dapat kembali digelar.

Menurutnya, keberadaan program Maghrib Mengaji memiliki banyak manfaat bagi anak-anak. Selain menjadi sarana menanamkan nilai-nilai spiritual dan keagamaan sejak dini, kegiatan tersebut juga dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk menghabiskan waktu malam dengan aktivitas yang positif.

“Yang terpenting, anak-anak ini harus kembali mengaji,” tegasnya.

Imam juga menilai kegiatan tersebut dapat membantu meminimalisir potensi kenakalan remaja. Dengan adanya aktivitas rutin di masjid selepas Maghrib, anak-anak memiliki kegiatan yang terarah dan bermanfaat.

Ia pun mengapresiasi kepedulian para orang tua yang secara langsung mendorong agar program tersebut kembali dihidupkan.

“Ini keinginan masyarakat, keinginan para orang tua langsung. Jadi saya akan ngobrol dengan DKM-nya, saya akan tanya apa persoalan dan kendalanya, lalu kita cari solusinya,” kata Imam.

Warga berharap upaya tersebut segera membuahkan hasil sehingga tradisi Maghrib Mengaji yang telah terjaga selama sekitar 15 tahun tidak berhenti begitu saja.

Bagi masyarakat Jagasatru Timur, menghidupkan kembali Maghrib Mengaji bukan sekadar menghadirkan kegiatan selepas Maghrib, tetapi juga menjaga tradisi positif sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk tumbuh dengan bekal keagamaan dan aktivitas yang bermanfaat.***