BeritaCirebon

Cirebon Jadi Pintu Budaya Nusantara: FKSM 2025 Suguhkan 20 Karya Eksperimen Silang Media

870
×

Cirebon Jadi Pintu Budaya Nusantara: FKSM 2025 Suguhkan 20 Karya Eksperimen Silang Media

Sebarkan artikel ini

CIREBON — Festival Komunitas Seni Media (FKSM) 2025 resmi dibuka pada Senin, 17 November 2025, di Kompleks Gudang Pelabuhan PT Pelindo, Cirebon. Setelah sukses digelar di Bengkulu (2022), Nusa Tenggara Barat (2023), dan Makassar (2024), tahun ini FKSM hadir dengan tajuk besar “Rentang Lawang”, membawa semangat lintas budaya, lintas pengetahuan, dan lintas disiplin ke Kota Udang.

Digelar hingga 23 November, FKSM 2025 menghadirkan pameran seni media, pertunjukan silang-media, panggung musik senja, tari, layar tancap, permainan tradisional, lokakarya, diskusi publik, hingga aktivasi komunitas. Seniman, pelajar, dan komunitas dari berbagai daerah berbaur, menjadikan Cirebon sebuah titik temu kreatif yang hidup seminggu penuh.

Cirebon, Kota Pertemuan yang Menjadi “Lawang” Nusantara

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan memilih Cirebon sebagai tuan rumah FKSM 2025 karena sejarah panjangnya sebagai kota perlintasan budaya. Geografisnya yang berada di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah membuat Cirebon menjadi ruang bertautnya pedagang, penyebar agama, budaya pesisir, spiritualitas, hingga kosmopolitanisme.

“Dengan tema ‘Rentang Lawang’, kami membuka pintu-pintu dialog lintas disiplin dan budaya. Cirebon adalah tempat yang tepat untuk merayakan keterhubungan itu,” ujar Ahmad Mahendra, Dirjen PPPK Kementerian Kebudayaan.

“Rentang Lawang”: Portal Menembus Sejarah dan Imajinasi Cirebon

Tema kuratorial tahun ini lahir dari dialog intens dengan komunitas lokal. “Rentang Lawang” dipahami bukan hanya sebagai pintu secara fisik, tetapi juga portal imajiner yang menghubungkan ruang-waktu—antara sejarah, mitos, arsip, dan masa depan kebudayaan.

“Tajuk ini membuka jalan untuk menelusuri simpul kebudayaan Cirebon, mempertemukan materialitas dan spiritualitas, lokalitas dan kosmopolitanisme,” ungkap Yudi Ahmad Tajudin, Direktur FKSM 2025.

20 Karya Eksperimen Seni Media dari Berbagai Penjuru Nusantara

Tahun ini, FKSM menampilkan 20 karya eksperimentasi seni media, terdiri dari:

8 karya individual

9 karya kolaborasi

3 karya kolektif

Partisipan hadir dari Jawa Barat hingga Bukittinggi, termasuk nama-nama seperti:

Angelissa Melissa, Arum Dayu, Azizah Diah Aprilya, Ghufron, Komunitas Api-Api, Tromarama, Rully Shabara, Jompet Kuswidananto, Toyol Dolanan Nuklir, Irene Agrivina, hingga kolaborator lintas kota seperti Ozy Sabbit, Sembilan Matahari, dan Tri Novitasari.

Seniman Cirebon dan Kuningan juga tampil kuat, di antaranya: Ellsa Berlandha, Farida Mahri, Hadi Purnomo, Adam Sudewo, Bella Meilida Amaliyah, Farihin Niskala, Nurjaji, Ivan Ardhi Permana, Krishna Sahwono, dan puluhan lainnya.

Ruang Kreatif yang Terus Bergerak

FKSM 2025 bukan sekadar festival seni, tetapi medium dialog yang mempertemukan teknologi, kehidupan sehari-hari, dan kreativitas masyarakat. Setiap karya menjadi “lawang”—pintu menuju pengalaman baru, sudut pandang baru, dan kemungkinan baru.

Dengan sejarahnya sebagai kota pertemuan, Cirebon kembali membuktikan diri sebagai ruang yang terus membuka pintu bagi keberagaman budaya dan gagasan seni kontemporer.***