CIREBON – Dinamika geopolitik global, khususnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, dinilai mulai memengaruhi pergerakan sejumlah komoditas dunia. Meski begitu, dampaknya tidak selalu sama pada setiap instrumen perdagangan berjangka.
Hal tersebut disampaikan Kepala Cabang PT Equityworld Futures Cabang Cirebon, Ernest Firman. Ia menjelaskan, saat ini kinerja perusahaan masih berada pada periode kuartal pertama 2026 sehingga pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan transaksi.
Menurut Ernest, kondisi global yang belum stabil membuat sebagian investor dan trader memilih mencermati perkembangan situasi internasional sebelum melakukan transaksi dalam skala besar.
“Karena masih di kuartal pertama dan situasi dunia belum sepenuhnya stabil, banyak pelaku pasar yang memilih menunggu dan melihat perkembangan geopolitik sebelum mengambil langkah investasi,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Meski ketegangan di Timur Tengah kerap memicu kekhawatiran pasar, Ernest menilai dampaknya tidak selalu signifikan terhadap semua komoditas. Salah satunya emas yang dalam situasi tertentu justru menjadi aset pelindung atau safe haven bagi investor.
“Biasanya ketika terjadi konflik atau perang, investor mengalihkan likuiditasnya ke emas untuk menjaga nilai aset. Tapi dampaknya tidak selalu berlangsung lama,” jelasnya.
Sebaliknya, komoditas yang saat ini lebih sensitif terhadap konflik adalah minyak mentah jenis Brent Crude Oil. Hal ini berkaitan dengan jalur distribusi minyak dunia yang salah satunya melewati Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global.
“Pergerakan harga Brent crude oil sangat dipengaruhi situasi di Selat Hormuz. Ketika kawasan itu memanas, harga minyak biasanya ikut bergejolak,” kata Ernest.
Ia mengungkapkan, dalam beberapa waktu terakhir harga minyak Brent bahkan sempat melonjak hingga sekitar 120 dolar AS per barel sebelum akhirnya terkoreksi ke kisaran 90 dolar AS per barel. Meski turun, volatilitas harga masih tergolong tinggi.
“Kondisi konflik yang belum jelas kapan berakhir membuat tensi harga minyak tetap tinggi. Justru situasi seperti ini membuat trading Brent crude oil cukup menarik,” ujarnya.
Ernest menjelaskan bahwa dalam perdagangan berjangka, investor tidak memperdagangkan komoditas secara fisik, melainkan memanfaatkan pergerakan harga di pasar.
“Karena yang diperdagangkan adalah pergerakan harga, momentum naik turun harga justru menjadi peluang bagi trader untuk mengambil posisi,” katanya.
Sementara untuk komoditas emas, ia memprediksi dalam waktu dekat ada potensi koreksi ringan setelah sebelumnya bergerak di level yang cukup tinggi.
“Untuk emas, saat ini pergerakannya tertahan di kisaran sekitar 5.000 sampai 5.200 dolar AS per troy ounce. Kemungkinan ada sedikit penurunan, tapi tetap menarik untuk dicermati,” jelasnya.
Di tengah situasi geopolitik yang memanas, Ernest juga mengingatkan para pelaku pasar agar lebih selektif dalam menerima informasi yang beredar, terutama di media sosial. Ia menilai banyak konten visual maupun berita yang belum tentu akurat, bahkan ada yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
“Sekarang banyak gambar atau berita yang ternyata hoaks atau dibuat dengan teknologi AI. Karena itu trader harus lebih kritis dan tidak langsung percaya pada setiap informasi,” terangnya.
Ernest menambahkan, perkembangan konflik global saat ini masih sulit diprediksi karena masing-masing pihak yang terlibat memiliki narasi berbeda. Jika konflik berkepanjangan, dampaknya berpotensi meluas ke perekonomian global.
“Kalau sampai April konflik belum mereda, kita perlu mulai waspada karena efeknya bisa semakin luas. Biasanya perang tidak berlangsung terlalu lama karena biaya yang harus dikeluarkan sangat besar,” pungkasnya.***











