CIREBON– Video dugaan perundungan antar siswa SD terjadi di Kabupaten Cirebon.Video tersebut diduga terjadi pada Sabtu (18/11/2023) lalu.
Dugaan perundungan yang melibatkan sekitar 16 siswa dari dua sekolah di Kecamatan Talun tersebut terjadi pada saat jam istirahat sekolah.
Kepala sekolah siswa yang ada dalam video tersebut Angga Permana menjelaskan kronologi singkat, saat jam istirahat enam siswa menuju jalan yang melintas areal pesawahan.
Kemudian datang 11 orang siswa diduga melakukan kekerasan ke enam siswa sebelumnya.
Empat dari enam siswa tersebut berhasil meloloskan diri sementara dua lainnya tertahan dan mengalami kekerasan fisik sesuai dalam video yang beredar.
Video yang beredar tersebut diketahui diambil oleh seorang anak yang masih satu kelompok dengan 11 anak tersebut.
Ia mengaku, pihak sekolah baru mengetahui adanya insiden tak mengenakan tersebut dari video yang beredar.
“Jam 9.30 WIB anak-anak itu istirahat, hanya saja kami tidak memantau detail anak-anak tersebut,” ucapnya.
“Saya tahunya mereka mau main pas istirahat. Tapi enam anak ini justru belakang sekolah ada sawah di sana,” tambahnya.
Angga mengaku tidak begitu paham kronologis kejadian perundungan tersebut. Kendati demikian, dirinya mendatangkan kedua belah pihak yakni siswa dari dua sekolah tersebut.
“Kami baru saja mendatangkan kedua belah pihak dan orang tua pun turut dihadirkan,” jelasnya.
Bukannya menunda penyelesaian masalah tersebut, pihak sekolah bahkan baru mengetahui kejadian tersebut usai video itu beredar.
“Anak-anak tidak menyampaikan kejadian hari Sabtu 18 November kemarin. Bahkan kepada orang tuanya pun mereka tidak bercerita. Kami baru tahu dari video yang beredar itu yang kami saksikan,” ungkapnya.
Senada dengan Angga, Kepala Sekolah yang juga siswanya ada dalam video itu, Sri Elis Rangmiati mengatakan, baru mengetahui kejadian setelah ramai dan para siswa tersebut bercerita.
Ia mengaku pihak tenaga pengajar kala istirahat juga menunaikan istirahat, sehingga tidak dapat mengawasi anak-anak secara penuh.
“Saat itu jam istirahat kami guru-guru pun sedang istirahat pun tidak bisa mengawasi anak-anak,” ujarnya.
Kalau berdasarkan keterangan anak-anak, kata Sri, tidak ada niatan untuk melakukan aksi tersebut.
“Sebenarnya mereka ngga ada niatan tawuran, mereka mau selfie-selfie di sawah,” ungkapnya.
Ia berkeyakinan, jika anak-anak melakukan hal tersebut secara spontan.
“Tidak ada masalah atau rencana mau tawuran, setelah ketemu lagi selfie-selfie tiba-tiba pukul-pukulan,” tutupnya.*(Sarrah)











