Berita

Wali Kota Cirebon Tinjau Pembangunan Senderan Sungai Suba, Upaya Kurangi Risiko Banjir untuk 160 KK

821
×

Wali Kota Cirebon Tinjau Pembangunan Senderan Sungai Suba, Upaya Kurangi Risiko Banjir untuk 160 KK

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Pemerintah Kota Cirebon terus memperkuat upaya pengendalian banjir di wilayah rawan genangan. Salah satunya melalui pembangunan senderan Sungai Suba di RW 09 Kelurahan Drajat yang ditinjau langsung oleh Effendi Edo, Rabu (8/7/2026).

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan progres pembangunan infrastruktur berjalan sesuai rencana. Senderan sungai yang dibangun diharapkan mampu mengurangi risiko luapan air yang selama ini kerap menggenangi permukiman warga saat hujan deras.

Effendi Edo menjelaskan, pembangunan senderan dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dengan panjang sekitar 90 meter dan tinggi mencapai 1,8 hingga 2 meter.

“Senderan yang sudah dibangun oleh BBWS memiliki panjang sekitar 90 meter dengan tinggi antara 1,8 hingga 2 meter. Mudah-mudahan ini bisa menjadi solusi untuk meminimalisir banjir yang selama ini masuk ke kawasan permukiman warga,” ujarnya.

Tak hanya di RW 09, pembangunan infrastruktur pengendali banjir juga telah diselesaikan di RT 01 RW 01 Kelurahan Drajat. Di lokasi tersebut, pemerintah telah membangun senderan, pintu air, sekaligus melakukan perbaikan saluran drainase.

“Di RW 01 pembangunan senderan sudah selesai. Selain itu juga telah dibuat pintu air dan dilakukan perbaikan saluran air sehingga sistem pengendalian banjir menjadi lebih baik,” tambahnya.

Wali Kota pun mengingatkan masyarakat agar ikut menjaga fasilitas yang telah dibangun pemerintah. Menurutnya, keberhasilan pengendalian banjir tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga kepedulian warga dalam merawat infrastruktur tersebut.

“Saya berpesan kepada masyarakat agar senderan yang sudah dibangun ini dijaga dan dipelihara bersama sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.

Sementara itu, Lurah Drajat, Daniar, mengungkapkan bahwa wilayahnya menjadi salah satu kawasan yang cukup sering dilanda banjir sejak 2024. Bahkan, saat banjir besar terjadi, ketinggian air dapat mencapai sekitar dua meter dan merendam permukiman warga.

Pada Februari 2026, banjir kembali melanda sebanyak dua kali dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Kondisi tersebut membuat warga terus mengusulkan pembangunan senderan serta normalisasi sungai sebagai solusi jangka panjang.

“Keluhan utama warga memang meminta adanya pembangunan senderan dan normalisasi sungai karena banjir yang terjadi cukup parah,” ujarnya.

Menurut Daniar, sedikitnya sekitar 160 kepala keluarga (KK) terdampak banjir di wilayah tersebut. Karena itu, pihak kelurahan akan kembali mengusulkan pembangunan senderan untuk kawasan RT 02 Kelurahan Drajat yang juga dinilai masih rawan terdampak luapan air.

“Kami akan kembali mengajukan pembangunan senderan di RT 02. Sebab, banjir juga dipengaruhi kiriman air dari wilayah hulu sehingga penanganannya perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan,” pungkasnya.*** (Sakti)