Scroll untuk baca artikel
Travel

Geliat Petani Kopi Cibeureum, Komala Perjuangkan Eksistensi Robusta

304
×

Geliat Petani Kopi Cibeureum, Komala Perjuangkan Eksistensi Robusta

Sebarkan artikel ini

KUNINGAN – Bagi Komala, kopi bukan hanya sebatas komoditas yang memberikan nilai ekonomi. Namun, dia ingin menumbuhkan semangat menanam kopi pada generasi muda.

Pria yang akrab disapa Kokom ini selalu menyajikan kopi untuk setiap tamu yang datang ke rumahnya di Desa Wisata Kopi Cibeureum, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan.

Dia menyuguhkan kopi robusta yang diberi merek Ratu Asih dengan teknik V60.

Pengalaman manis dan pahit di dunia kopi sudah dirasakan Kokom, mulai dari meraup untung hingga memberdayakan petani kopi lainnya di Desa Cibeureum.

Perjalanan Kokom dalam dunia kopi dimulai setelah kembali merantau dari Lampung tahun 1994.

Saat itu, dia memutuskan kembali ke desanya dan menanam kopi.

Pria berusia 57 tahun ini ingin melihat pasar kopi di kaki Gunung Ciremai bisa seperti di Lampung.

Saat ini, fenomena kekeringan atau El Nino berdampak pada sejumlah komoditas pertanian, termasuk kopi yang ditanam Kokom.

Hidup Komala berubah sejak bertemu dengan Kampus Kopi yang menginventarisasi petani kopi tahun 2014.

Dari hasil pertemuan itu, Kokom bersedia melakukan petik merah seperti yang diharapkan Kampus Kopi.

Gairahnya di dunia kopi juga akhirnya dilirik Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon pada tahun 2019.

Kerja keras Kokom di dunia kopi banyak dilirik sejumlah orang yang berbisnis di kedai kopi.

Dia menerima banyak permintaan dari Bandung, Jakarta hingga mancanegara.

Meski namanya tersohor dalam dunia perkopian di Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning). Namun Kokom selalu merendah. Baginya, membagikan ilmu yang dimiliki merupakan kebaikan yang akan terus mengalir untuk dirinya.

TiketFest