Scroll untuk baca artikel
Cirebon

Mengenal Taman Siswa Cirebon, Sekolah Kedua yang Didirikan Ki Hajar Dewantara 

138
×

Mengenal Taman Siswa Cirebon, Sekolah Kedua yang Didirikan Ki Hajar Dewantara 

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Pahlawan pendidikan Ki Hajar Dewantara mendirikan salah satu sekolah yakni Taman Siswa.

Taman siswa sendiri didirikan di Yogyakarta pada 3 Juli 1922 oleh Ki Hajar Dewantara melalui proses diskusi atau sarasehan.

Setelah berhasil mendirikan sekolah Taman Siswa pertama di Yogyakarta, pada satu tahun kemudian Ki Hajar Dewantara juga mendirikan sekolah Taman Siswa kedua yang berada di Kota Cirebon.

Sekolah Taman Siswa Cirebon sendiri merupakan sekolah taman siswa tertua kedua yang dibangun pada 6 Juli 1923 kembali oleh Ki Hajar Dewantara.

Sekolah Taman Siswa sendiri berada di belakang Pasar Kanoman Kota Cirebon, letak yang tidak strategis tersebut membuat sekolah tersebut kini sepi peminat.

Ketua Yayasan Persatuan Perguruan Taman Siswa Cabang Cirebon Nurcholis Majid mengatakan, pada awal pendiriannya Taman Siswa sendiri memiliki 800 siswa. 

“Kita disini ada 5 bagian yang ada di Taman Siswa, karena dahulu jumlah siswanya banyak dipisah di Perjuangan, yang SMA dan juga SMEA,” katanya, Rabu (12/6/2024).

Dirinya melanjutkan, pembelajaran di taman siswa sendiri, guru disebutnya yaitu pamong, selain itu guru laki-laki biasa disini dipanggilnya Ki, untuk guru perempuan yang sudah menikah disebutnya Nyi, kalau yang belum menikah Ni.

“Jadi di asas taman siswa sendiri guru itu istilah bahasa jawanya ngemong, jadi mendidiknya seperti anak sendiri,” lanjutnya.

Ia mengungkapkan, Ki Hajar Dewantara sendiri pernah mengajar secara langsung di sekolah Taman Siswa Cirebon.

“Kita juga memiliki mata pelajaran tersendiri yaitu mata pelajaran taman siswa, yang mengajarkan soal tata krama dan juga budaya,” ungkapnya.

Selain itu, sekolah Taman Siswa sendiri memiliki beberapa filosofi, seperti ruang kelas yang menyambung satu sama lain.

“Hal itu dilakukan agar pengawasan yang lebih mudah, selain itu juga komunikasinya lebih mudah dan sifat kekeluargaan yang luar biasa,” tutur Nurkholis.

Saat ini sendiri beberapa barang peninggalan yang sudah berusia ratusan tahun masih di simpan di sekolah tersebut.

Beberapa barang tersebut diantaranya kursi-kursi yang menyatu dengan meja yang terbuat dari bahan kayu jati yang sudah berusia ratusan tahun. ***(Sakti)

TiketFest