BeritaCirebon

Teman Dengar JKN, Kesetaraan Akses Pelayanan Kesehatan bagi Difabel Tuli

4021
×

Teman Dengar JKN, Kesetaraan Akses Pelayanan Kesehatan bagi Difabel Tuli

Sebarkan artikel ini
Pelatihan bahasa isyarat di Kantor BPJS Kesehatan Cirebon. Foto : Gerkatincirebon

CIREBON – Sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang mendorong pemerintah dan lembaga pelayanan publik untuk menyediakan aksesibilitas layanan bagi seluruh warga negara, BPJS Kesehatan Cirebon sejak tahun 2024, memiliki inovasi pelayanan yakni Teman Dengar, untuk melayani difabel tunarungu atau tuli. 

Inovasi tersebut, BPJS Kesehatan membuktikan bahwa layanan kesehatan yang adil dan setara bukan hanya wacana, tetapi telah diimplementasikan nyata demi Indonesia yang lebih inklusi.

“Program ini, salah satunya untuk menciptakan pelayanan yang tepat dan cepat,” Kepala BPJS Kesehatan Cabang Cirebon, Adi Darmawan, Senin (28/7/2025). 

Diungkapkan Adi, melihat bahwa ada kebutuhan layanan yang sebelumnya di-cover. Termasuk layanan prioritas bagi difabel, khususnya tunarungu. 

“Tahun lalu ada kegiatan sosialisasi, dan di situ kami banyak interaksi yang dibantu dengan teman-teman Yayasan Pancaran Kasih Grage dan Gerkatin, dari situ banyak sekali teman tuli yang ingin jadi peserta JKN,” katanya. 

Sejak itu, komunikasi pihaknya dengan Gerkatin berjalan intensif, dan tercipta juga tools untuk pelayanan teman tuli. 

“Penyandang tunarungu sekarang tidak perlu khawatir, karena di kami (BPJS Kesehatan) kantor kami, petugas bisa bahasa isyarat dasar,” ungkap Adi. 

Dalam kesempatan lain, Ketua Yayasan Pancaran Kasih Grage, Dita Hudayani mengungkapkan, yayasannya itu menaungi dua Sekolah Luar Biasa (SLB) yakni SLB-B khusus tuli dan SLB-C tuna grahita. 

Dita menilai di SLB-B tuli, setelah ia mendalami dan mengenal anak didiknya, tuli ini tidak bisa dibantu oleh semua orang, contoh, buta bisa dibantu orang lain yang punya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar. Tapi, tuli tidak bisa, karena yang bisa bantu mereka hanya orang-orang yang bisa berbahasa isyarat,” ucap Dita. 

Menurut Dita, teman-teman tuli, pandangan terhadap akses kesehatan, khususnya kalau sakit, beranggapan tidak perlu datang ke dokter atau fasilitas kesehatan, karena teman tuli ini tidak akan mendapatkan informasi yang utuh. 

“Petugas belum bisa membantu menyampaikan informasi kepada teman tuli, sehingga ada anggapan, kalau teman tuli sakit jangan datang ke rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya,” kata Dita, Rabu (30/7/2025). 

Di suatu hari, diungkapkan Dita, BPJS Kesehatan Cabang Cirebon menggelar sosialisasi atas inisiasi dewan pengawasnya. Dalam kegiatan tersebut, Kepala BPJS Kesehatan Cirebon “belanja masalah” dan ditemukan sisi lain pelayanan, yakni terkait pelayanan terhadap teman tuli. 

“(Kepala BPJS Kesehatan Cirebon) langsung tangkap masalah dan beri solusi. Akhirnya ada kerja sama dengan yayasan kami dan organisasi tuli,” ucapnya. 

Menurut Dita, teman tuli walaupun tidak ada keterbatasan dari sisi intelektual, tetapi harus tetap dibantu oleh teman dengarnya yang bisa bahasa isyarat. 

“Tuli itu punya organisasi yakni Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia) dan di wilayah Kota/Kabupaten Cirebon di bawah naungan kami Yayasan Pancaran Kasih Grage,” katanya.

Atas kerja sama ini, diungkapkan Dita, semua petugas di BPJS Kesehatan belajar bahasa isyarat, untuk melayani teman tuli. 

“Sehingga, jika teman tuli yang ingin menjadi peserta BPJS Kesehatan dapat dilayani dengan baik mendapatkan informasi. Bahkan, termasuk petugas security pun bisa berbahasa isyarat,” ungkapnya. 

“Hal hal seperti ini membuat teman tuli mendapatkan hak dan akses yang sama, setara. Khususnya, dalam pelayanan kesehatannya,” imbuh Dita.

Sementara itu, Wali Kota Cirebon, Effendi Edo mengatakan, ia mengapresiasi BPJS Kesehatan Cirebon yang terus mengeluarkan ide-ide serta inovasinya, terutama Teman Dengar ini. 

“Terima kasih banyak BPJS Kesehatan Cirebon, mudah-mudahan ini dapat terus berkolaborasi dengan pemerintah,” katanya. 

Untuk Kota Cirebon, lanjut Effendi Edo, pihaknya sangat mendukung, karena inovasi tersebut membantu warga Kota Cirebon, khususnya teman-teman tunarungu. 

“(Belajar bahasa isyarat) untuk membantu pelayanan, sebenarnya kami sudah melakukan itu, Dinkes dan Disdik sudah berjalan. Kalau ke depan kolaborasi antara BPJS Kesehatan dan Pemkot akan lebih cepat penangannya,” ungkapnya. 

“Upaya kami pun, terkait pelayanan bagi anak-anak kami yang tuna rungu, mulai dari tingkat puskesmas akan ada disiapkan yang mengerti itu,” imbuhnya.***(Hasan)