BeritaCirebon

Hadir di Pagelaran Pusaka Kulonan, Pesan Abah Anom : Lestarikan Budaya dan Kesenian Cirebon

1138
×

Hadir di Pagelaran Pusaka Kulonan, Pesan Abah Anom : Lestarikan Budaya dan Kesenian Cirebon

Sebarkan artikel ini

CIREBON – Bertajuk “Pergelaran Keindahan Pusaka Kulonan – Jabar Istimewa” pameran dan kontes kulonan yang digelar di Halaman Keraton Kacirebonan, Pekalipan, Kota Cirebon, Jumat (25/7/2025) diharapkan dapat menggugah generasi muda melestarikan budaya dan kesenian Cirebon. 

Hal tersebut diungkapkan Tokoh Cirebon, Mas Aulia Priyandana Sukandar atau yang akrab disapa Abah Anom. 

“Generasi muda harus peduli dan beri sumbangsih untuk pelestarian budaya,” ungkap Abah Anom. 

Ia menyampaikan, meski belum sempurna dalam pelaksanaannya, tetapi acara tersebut menjadi bukti bahwa Cirebon konsisten serius dalam pelestarian budaya. 

“Ini (budaya dan kesenian) harus dilestarikan dan orang Cirebon harus lebih peduli, kegiatan itu pun sebagai salah satu bentuk keguyuban masyarakat Cirebon,” ujarnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pagelaran, Raden Sigit Permadi mengatakan, kegiatan ini rutin dilakukan tiap tahun yakni bursa tosanaji, yakni terkait dengan perkerisan. Perkerisan sendiri sudah disahkan oleh Mentrian Kebudayaan RI Fadli Zon, jadi Hari Keris Nasional telah ditetapkan setiap Tanggal 19 April.

Sigit menjelaskan, pada pagelaran ini, selain 150 peserta dalam negeri, hadir pula peserta dari mancanegara seperti Malaysia, Amerika (California dan Santa Barbara) dan Thailand. 

“Kegiatan ini merupakan edukasi dan mengenalkan kepada seluruh Masyarakat Jabar khususnya Cirebon, antara keris dan sejarah itu tidak bisa dipisahkan,” jelasnya. 

Dalam rangkaian kegiatan, dipamerkan dan dikonteskan juga pusaka-pusaka kulonan atau khusus Jabar, seperti Cirebon, Sumedang, Banten, Galuh dan Pajajaran. 

Kemudian ada bursa jual beli pusaka yang bisa dihibahkan atau di maskawinkan dengan seseorang yang memang kolektor pencinta perkerisan juga. Dihadirkan pula pengrajin atau pembuat keris dan rangka keris yang disebut mpu atau pandai.

“Nanti akan ada mpu yang mempraktekan cara pembuatan keris, gagangnya maupun rangkanya dan sarungnya,” ungkapnya.

Raden Sigit juga berpesan kepada generasi muda, agar jangan pernah melupakan sejarah dari para pendahulu. Jangan mempunyai stigma keris itu adalah hal yang menakutkan yang berkaitan dengan supranatural. 

Makanya, lanjut Raden Sigit, pihaknya akan mengedukasi kepada generasi muda, bahwa keris adalah bagian dari budaya dan sejarah Bangsa Indonesia.***