Scroll untuk baca artikel
CirebonBerita

Kakek di Kaliwedi Diringkus Polisi Usai Jual Beli BBM Ilegal

141
×

Kakek di Kaliwedi Diringkus Polisi Usai Jual Beli BBM Ilegal

Sebarkan artikel ini
Caption Kapolresta Cirebon Kombes Pol Sumarni saat menanyakan tersangka BBM S (63) pada press rilis kasus, Senin (4/3/2024). Foto: Sarrah
Caption Kapolresta Cirebon Kombes Pol Sumarni saat menanyakan tersangka BBM S (63) pada press rilis kasus, Senin (4/3/2024). Foto: Sarrah

CIREBON– Seorang kakek inisial S (63) di Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon diringkus polisi usai melakukan tindak pidana penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi dan pertalite.
Berdasarkan informasi tindakan tersebut berhasil diketahui pada Sabtu (27/2/2024) lalu.


Kapolresta Cirebon Kombes Pol Sumarni mengatakan, tak ha penyalahgunaan dimaksud yakni dengan memperjual-belikan BBM secara ritel tanpa izin.


Tak hanya itu, S juga melakukan modifikasi pada kendaraan khususnya pada tangki bensin menjadi bermuatan 200 liter sehingga dapat memuat BBM lebih banyak.


“Jadi tersangka inisial S (63) ini jual beli bensin secara ritel tanpa izin, kemudian modus operandinya dengan memodifikasi kendaraan agar dapat memuat lebih banyak, kemudian mengisi BBM ke SPBU dimaksud,” kata Sumarni, Senin (4/3/2024).


Tindakannya tersebut, kata Sumarni, agar tidak diketahui oleh petugas, S mengisi BBM dengan cara mengantre beberapa kali sehingga kebutuhannya terpenuhi.


“Mengantre sekitar dua kali sehari untuk mendapatkan 40-50 liter BBM,” ungkapnya.


Sudah melancarkan aksinya selama setahun, beber Sumarni, keuntungan yang diperoleh tersangka untuk satu liter BBM jenis solar subsidi yakni Rp. 1.700 dan BBM jenis pertalite sebesar Rp. 1.800 per liter.


“Jadi harga solar bersubsidi Rp. 6.800 dijual tersangka sebesar Rp. 8.500 per liter, dan pertalite
dapat sejumlah barang bukti yang disita.


“Barang bukti yang diamankan mobil kijang dengan tangki yang sudah dimodif, Suzuki carry yang sudah dimodif tangki bensinnya (juga), 7 jirigen kosong 25 liter, 3 dirijen berisi 25 liter solar subsidi, 2 barcode my Pertamina, alat ukur minyak, mesin pompa mini 1 unit, dan 1 drum plastik berisi solar subsidi sebanyak 150 liter,” sebutnya.


Akibatnya pelaku terancam pasal 55 UU RI No. 22 2001 tentang minyak, dan gas bumi dengan maksimal kurungan 6 tahun penjara, dan denda maksimal Rp. 60.000.000.**

TiketFest