Scroll untuk baca artikel
Kuliner

Kue Tapel Ibu Lena: Warisan Legen Khas Cirebon yang Diburu Wisatawan

864
×

Kue Tapel Ibu Lena: Warisan Legen Khas Cirebon yang Diburu Wisatawan

Sebarkan artikel ini
Kue Tapel Cirebon
Tangkapan Layar Kue Tapel (Kanal Youtube/Davidsbeenhere)

CIREBON, sebuah kota di pesisir utara Jawa Barat, tidak hanya terkenal dengan keragaman budayanya tetapi juga dengan kelezatan kuliner tradisionalnya. Salah satu dari warisan kuliner yang tak lekang oleh waktu adalah Kue Tapel khas Cirebon, khususnya yang dijual oleh Kue Tapel Ibu Lena. Jajanan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Cirebon selama lebih dari 50 tahun.

Menjadi salah satu penjual Kue Tapel yang sudah melegenda, Lena adalah representasi dari generasi keempat yang mengelola dan menjaga keaslian cita rasa Kue Tapel. Terletak di Gang Alas Demang 1, Nomor 1, Pekalangan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon. Kue Tapel Ibu Lena menjadi tempat yang selalu ramai dikunjungi oleh para penggemar kuliner tradisional.

“Saya udah generasi ke-empat. Ya kira-kira udah lebih dari 50 tahun. Alhamdulillah, rame terutama di hari Sabtu dan Minggu. Yang pesan untuk acara juga ada. Seperti hari ini ada pesanan 40 kue untuk hari Sabtu,” kata Lena. 

Salah satu hal yang membuat warisan kuliner ini begitu istimewa adalah proses pembuatannya yang masih sangat tradisional. Menggunakan wajan baja turun temurun, tungku, dan kayu bakar.

“Ini wajannya baja, udah turun-temurun. Bikinnya nggak pake minyak, tapi sebelum masukin adonan, kita bersihkan dulu wajanya sekaligus kita oles sela,” jelasnya.

Prose memasak Kue Tapel diawali dengan Adonan santan dan tepung beras diatur di atas wajan, kemudian diratakan dengan menggunakan daun pisang sebagai spatula. Proses berlanjut dengan penambahan ketan, gula merah, dan potongan pisang. Setelah ditunggu hingga matang dan rata, Kue Tapel siap untuk dinikmati.


Keistimewaan Kue Tapel Ibu Lena tidak hanya terletak pada proses pembuatannya yang tradisional, tetapi juga pada cita rasanya yang menggoda. Menurut salah seorang pengunjung, Muchamad Faizal, gurih, manis, dan sedikit masam dari pisang, setiap gigitannya menghadirkan harmoni rasa yang sempurna.

Ia juga mengatakan kesenangan itu berlipat saat disantap dalam keadaan hangat, di mana gula merah dan pisang meleleh di mulut, memberikan pengalaman tak terlupakan bagi siapa pun yang menikmatinya.

“Dimakan pas masih anget-anget, enak banget. Gula sama pisangnya itu meleleh dimulut. Wajib cobain kalau ke Cirebon,” ungkap Faizal.

Di balik kelezatan Kue Tapel Ibu Lena, terdapat fakta unik yang menambah kesan mendalam pada warisan kuliner ini. Lena menjelaskan, nama “Kue Tapel Ibu Lena” telah digunakan sejak generasi ibu dari Lena sendiri, yang pada kenyataannya adalah nama dari anaknya yang kini meneruskan bisnis keluarga ini.

“Lena itu nama saya. Sebelum saya jualan, ibu saya udah jualan dulu kan. Tapi beliau pake nama Saya, jadinya orang-orang mengira nama Lena itu nama ibu Saya. Padahal itu nama Saya,” paparnya.

Menurut Ibu Lena, warisan kuliner ini tidak akan berhenti pada dirinya saja. Generasi selanjutnya, yakni ponakan dari Ibu Lena, siap untuk meneruskan jejaknya dalam menjaga keaslian dan kelezatannya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa warisan kuliner tradisional tidak hanya memuaskan lidah, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kekeluargaan yang erat.

Dengan segala keistimewaannya, Kue Tapel Ibu Lena tetap menjadi primadona bagi pecinta kuliner tradisional, mengajak kita untuk selalu menghargai dan melestarikan warisan kuliner nenek moyang.

TiketFest